Rabu, 07 Februari 2018

[Resensi]: Oishii Jungle

Judul Novel: Oishii Jungle
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Tebal:193 halaman
Tahun terbit:2014
Tokoh: Shasa, Era, Heru, Akiko, Kenji

 Keseruan Petualangan ke Tanjung Puting



Shasa seorang mahasiswi yang mempunyai sahabat bernama Era. Mereka berdua ini punya sifat dan latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda. Shasa anak orang kaya yang terbiasa dengan gaya hidup mewah, sementara Era anak orang biasa yang gemar berpetualang ke pelosok-pelosok Indonesia, walau sering harus menabung dulu untuk itu.

Shasa butuh bantuan Era untuk memenuhi tantangan Akiko, mantan tetangganya yang orang Jepang asli (ceritanya Akiko ini pernah tinggal di Indonesia, tapi sudah kembali ke Jepang), untuk menjadi guide jalan-jalan ke tempat wisata yang tidak biasa di Indonesia. Pokoknya harus unik dan menantang. Bila Shasa berhasil memenuhi tantangan dari Akiko, Akiko akan menguruskan tiket Shasa nonton kabuki di Tokyo.
Shasa dibantu Era menggugling tempat-tempat wisata di Indonesia dan singkat cerita, mereka dan juga Akiko setuju untuk berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan. Mereka akan dipandu oleh Heru, teman SMP Shasa dan Era yang tinggal di Pangkalan Bun. Jadilah pada hari yang ditentukan, mereka pergi berlima: Shasa, Era, Heru, Akiko dan Kenji (kakak Akiko).

Novel ini berkisah tentang petualangan mereka berlima di Tanjung Puting. Tentunya banyak cerita seru, bagaimana mereka naik perahu kelotok menuju Tanjung Puting, bertemu orangutan ramah bernama Siswi, kelelahan Shasa yang tak terbiasa berpetualang di alam terbuka dengan medan yang terjal, juga beberapa spot pemandangan indah alam Kalimantan yang dituturkan dengan apik oleh penulisnya. Tak ketinggalan berbagai kuliner yang selalu dinikmati dengan senang hati oleh Akiko dan Kenji, dan komentar Akiko setiap menemukan sesuatu yang mengagumkan hatinya: Oishii ... Pemandangannya oishii, makanannya oishii, perjalanannya oishii juga.

Petualangan yang seru itu juga dibumbui dengan episode-episode romantis antara Shasa dan seseorang peserta perjalanan lainnya. Hayo, siapa kira-kira? Membaca novel ini bisa sekali habis karena gaya bahasanya ringan, renyah, dan menyenangkan. Novel ini rekomended sekali untuk dibaca menghabiskan akhir pekan. Walau tergolong bacaan ringan, namun dari novel ini kita juga mendapatkan beberapa pengetahuan yang penting, misalnya deskripsi Taman Nasional Tanjung Puting, caranya kesana dan juga ke spot-spot wisata di sekitarnya; jenis-jenis makanan Jepang; dan budaya Jepang misalnya yang berkaitan dengan Boneka Daruma. Daruma adalah boneka berbentuk bulat yang dijual dengan bola mata yang belum diwarnai. Boneka ini merupakan lambang pengharapan yang belum tercapai. Orang yang mempunyai harapan akan mewarnai mata kanan Daruma dan setelah harapannya tercapai, boleh mewarnai mata kirinya. Dalam perjalanan mereka ke Tanjung Puting, Shasa dan Era sama-sama membawa boneka Daruma hadiah dari Akiko. Kira-kira, harapan apa yang dipunyai Shasa dan Era dan apakah mereka berhasil mewarnai mata kiri Daruma? Hmmm, baca saja deh novelnya.

Boneka Daruma yang bola matanya sudah diwarnai. Gambar dari 
http://imccenter.blogspot.co.id/2015/02/daruma-ningyo.html



4 komentar:

  1. kok jenenge Tanjung Puting yoo hihihihi

    BalasHapus
  2. Terima kasih reviewnya walaupun saya telat banget bacanya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, senangnya dikomen penulisnya. Saya juga telat baca komen mbak. Makasiiih.

      Hapus

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES