Selasa, 09 Januari 2018

Dua Jurus Jitu Menjadi Penulis




Foto dari https://typercat18.wordpress.com/2012/06/11/


Saya mempunyai banyak teman dunia maya yang berprofesi sebagai penulis. Saya juga senang membaca banyak grup-grup tentang kepenulisan. Kenapa? Ya karena saya suka menulis. Saya suka menulis dan mengirimkannya ke media, lalu mendapatkan honor dari tulisan saya tersebut. Saya kadang juga menulis bukan untuk dikirimkan ke media, namun sekadar opini, curhat, atau cerita sehari-hari  yang saya tuangkan di blog.

Saya sering membaca pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada beberapa teman penulis dan juga pertanyaan di grup-grup kepenulisan, tentang keingintahuan bagaimana memulai menjadi seorang penulis.

“Bagaimana sih, caranya menjadi penulis?”
“Saya punya banyak ide cerita tapi saya tidak dapat menuangkan menjadi tulisan yang bagus. Bagaimana ya, sebaiknya?”
“Saya ingin jadi penulis tapi bagaimana cara mendapatkan ide?”

Dan … masih banyak lagi pertanyaan lain yang diajukan. 

Saya bukan penulis profesional. Posisi saya adalah penulis yang masih harus selalu belajar setiap saat untuk memperbaiki kualitas tulisan saya. Namun setelah saya telusuri berbagai tulisan teman-teman dan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan di atas, maka saya berani menyimpulkan bahwa untuk menjadi penulis hanya butuh DUA jurus jitu, yaitu:

TEKUN dan SABAR

1.       Tekun (Tekun menulis dan tekun membaca)

Foto dari http://www.teknikhidup.com/quotes/gambar-kata-motivasi-semangat-kerj
 
Banyak penulis menyarankan pada penulis newbie untuk menulis secara teratur. Tiap hari harus selalu ada yang ditulis. Tidak usah terlalu banyak kalau memang tidak bisa. Dengan menulis satu paragraph setiap hari misalnya, maka dalam seminggu kita bisa mendapatkan satu halaman tulisan. Menulis teratur banyak manfaatnya, yaitu lambat laun otak kita akan luwes dalam mengolah kata. Dengan melatih setiap hari, kualitas dan kuantitas yang kita peroleh akan bertambah.

Salah satu penulis terkenal yang sangat tekun adalah Raditya Dika. Dika menulis buku-bukunya di sela jadwal kerjanya yang padat. Ada satu bukunya yang rampung dalam tiga tahun, hasil menulis rutin satu paragraph per hari.

Tentu saja sebelum bertekun ria, harus ditetapkan dulu naskah apa yang hendak ditulis, sesuai minat masing-masing. Ide dan diksi dapat diperoleh dengan tekun membaca naskah-naskah sejenis. Jika ingin menulis cerpen anak, maka tekunlah membaca puluhan bahkan ratusan cerpen anak sebagai referensi,; jika ingin menulis novel romantis, tekunlah membaca puluhan novel bergenre sama. Nanti pasti akan didapatkan kuncinya, setelah itu kita dapat menulis dengan lebih lancar karena paham, naskah yang akan kita tulis itu seperti apa.

2.       Sabar


Foto dari  http://jmmi.its.ac.id/2015/10/sabar-sudahkan-dihati-kita/

Penulis tidak hanya harus tekun dalam menjalani proses belajar menulis. Ia juga harus sabar, terutama penulis yang ingin menerbitkan karyanya untuk tujuan komersial. Menerbitkan naskah di media cetak atau digital ataupun naskah buku ke penerbit. Pada saat kita merasa senang sudah berhasil menulis naskah pendek (opini, cerpen, dll), atau panjang (novel, buku non fiksi), akan ada perjuangan panjang melalui alur kesabaran, yaitu saat kita mengirimkan naskah ke media/penerbit dan mengharap konfirmasi Acc.

Sebagai contoh saya share saja perjalanan kelima naskah saya yang tayang di 2017 kemarin, ya.

-          Cerpen anak “Kampung Baru Lina”, naskah cerpen dalam kumcer PBA (Penulis Bacaan Anak) saya tulis dan kirim 12 September 2014 sebagai naskah audisi kumcer. Setelah naskah itu pasti lolos untuk dibukukan, bukunya baru selesai tahun 2017. Nyaris tiga tahun prosesnya.

-          Cerpen remaja “Janji Eka”, dikirim 4 Februari 2017 ke majalah Gogirl dan dimuat di edisi 16 April 2017. Prosesnya dua bulan lebih. Ini termasuk cepat.

-          Opini “Transportasi Online” dikirim ke harian Bernas 15 Maret 2017, dimuat 16 Maret 2017. Naskah opini di surat kabar termasuk jenis naskah yang cepat tayang, jika memang layak tayang, dan sesuai momen. Saya mengirimkan naskah ini saat rame-ramenya demo terhadap transportasi online. Apabila selama satu minggu naskah tidak ada kabar, bisa dipastikan naskah kita tidak layak terbit. Durasi menunggu satu minggu ini, hanya untuk naskah koran, ya.

-          Cerpen anak “Kotak Bekal Misterius”, dikirim ke majalah Bobo 1 Agustus 2016, dimuat edisi 13 Juli 2017. Prosesnya nyaris satu tahun. Untuk Bobo ini relatif “cepat” karena ada cerpen yang dimuat setelah menunggu dua tahun antrean.

-          Cerpen anak “Menjaga Kejujuran”, dikirim via pos ke harian Kedaulatan Rakyat sekitar bulan Oktober 2017 (saya lupa mencatat karena dikirim via pos), dimuat tanggal 12 Desember 2017. Proses sekitar dua bulan. Untuk naskah cerpen di harian lokal memang relatif cepat penanyangannya kalau memang naskahnya layak.




Foto dari koleksi pribadi

 
 Dari penjelasan di atas rekor bersabar terlama diraih oleh naskah buku (antologi kumcer). Dengar-dengar, memang untuk naskah buku diperlukan kesabaran yang lebih tingkat dewa. Terlebih bila naskah kita diacc, ada tahap revisi yang harus benar-benar kita lakoni dengan fokus dan sabar agar naskah kita cepat selesai. Untuk naskah buku solo, saya memang belum pernah Acc (menghela napas panjang), jadi belum tahu harus sesabar apa. Semoga sebentar lagi saya dapat ujian kesabaran ngerevisi naskah buku yang diacc penerbit, Aamiin (ngarep).

Selama ini saya menulis untuk media sekadar hobi atau second job, karena itu memang hasil ‘hobi’ saya ini tidak banyak dari sisi kepuasan materi. Namun dari sisi kepuasan batin, cukup menyenangkan. Kalau ada yang kepo bertanya berapa rupiah saya hasilkan dari lima naskah di atas? Totalnya kurang dari satu juta rupiah. Satu juta untuk satu tahun tentu jumlah yang tidak banyak. Jadi jika kita memutuskan untuk menjadikan penulis sebagai profesi, kita harus lebih tekun dan lebih sabar dalam bekerja, ditambah satu jurus lagi yaitu KREATIF. Menjadikan penulis sebagai profesi , kita tidak lagi bisa tekun menulis hanya satu paragraph per hari, namun harus tekun bekerja minimal delapan jam per hari untuk menulis. KREATIF dalam arti pandai mencari peluang. Tidak hanya menulis untuk media, tapi melebarkan sayap untuk menulis buku, menulis di blog, menulis naskah sinetron/film, ataupun di media lain yang menghasilkan lebih banyak uang. 

Nah, tujuan kita menulis, hanya kita sendiri yang tahu. Apakah hanya untuk bersenang-senang, sebagai second job seperti saya untuk mendapatkan sedikit tambahan penghasilan, atau full menulis sebagai profesi. Apapun pilihannya, kita tetap harus TEKUN dan SABAR.

9 komentar:

  1. Waw subhanallah banyak sekali karya yang sudah dibuat mba. Kalau saya sejak jadi ibu rumah tangga baru belajar menulis dan ngeblog. Ini juga baru setahun belajar nulisnya. Tetapi belum bisa menulis setiap hari. 🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Mbak. Saya nulis sudah lama tapi ngeblog hanya bisa polosan enggak macem-macem, nih, hehe. Harus belajar lagi. Kalau sudah senang nulis, nggak nulis sehari aja rasanya kangen. Ya, paling enggak, nulis status...hehehe. Makasih sudah singgah dan komen, ya, Mbak...

      Hapus
  2. Terimakasih tipsnya kak.. Keren deh karyanya sudah banyak :)

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    BalasHapus
  3. Mbak Ind, syuka sama tulisanmu deh. Ajari aku nulis cerita anak yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun, jiaaa mbak Irfa wis bisa kan ...

      Hapus
  4. Waaaa banyak banget ya hasil karyanya. Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Alhamdulillah...
      Makasih sudah singgah di sini ya, Mbak ...

      Hapus

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES