Selasa, 27 November 2018

[Resensi Buku]: Pendekar Tongkat Emas, behind the scene

Judul Buku        : Pendekar Tongkat Emas, Behind the Scene (PTEBTS)
Penulis              : Rita Triana Budiarti
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit       : 2014
Tebal buku        : 132 halaman

Gambar dari Wikipedia

Setelah menikah, saya jarang nonton movie. Beberapa film yang ingin saya tonton biasanya hanya masuk dalam daftar wish list, dan nunggu diputer stasiun televisi untuk menontonnya, hahaha. Kemarin iseng-iseng nyari bacaan di i-Jak, saya dapat buku ini dan ingat bahwa dulu saya sempat kepingin nonton filmnya. Karena keinginan nonton filmnya belum terpenuhi, saya baca aja buku ini.

Ini adalah buku yang ditulis berdasarkan film. Jadi filmnya dulu dibuat, baru buku ini ditulis. Ya, namanya juga buku behind the scene, alias buku yang memuat alasan dan proses bagaimana film ini dibuat. Buku ini diawali dengan penceritaan mengapa Mira Lesmana (produser) sangat antusias membuat film silat. Rupanya sejak kecil Mira suka membaca komik silat. Secara bertahap, empat penulis terlibat dalam pembuatan sinopsis dan plot cerita. Setelah tersusun, pembuatan skenario diserahkan pada Jujur Prananto. Sastrawan Seno Gumira Adjidarma juga terlibat dalam memberikan sentuhan filosofi pada dialog dan karakter.

Lokasi cerita bertempat di Sumba, yang telah dibayangkan oleh Mira Lesmana sejak awal membayangkan film ini. Di buku ini banyak foto-foto indah Sumba, saat hunting lokasi dan juga saat syuting sudah dimulai.

Selain menceritakan hal ihwal bagaimana ide film muncul, buku ini juga menceritakan proses casting para pemainnya, proses pembuatan kostum, dan pembuatan tongkat emas. Berderet bintang menjadi pemeran dalam film ini, mulai dari Christine Hakim, Reza Rahadian, Nicholas Saputra, Eva Celia, dan Tara Basro. Kostum yang dikenakan sederhana dengan warna-warna alam. Tongkat sebagai properti utama, dikerjakan oleh seniman dari Bali.

Tongkat Emas
sumber: ilustrasi buku PTEBTS


 Yang tak kalah penting adalah koreografi laga dan latihan fisik. Sebagai pelatih koreografi laga, tak tanggung-tanggung, Mira mendatangkan Xiong Xin Xin, seniman bela diri dan aktor pengganti dari Tiongkok. Xin Xin ini pernah menjadi stuntman Jet Lee di beberapa filmnya.

 Tara Basro
sumber: ilustrasi buku PTEBTS


Secara khusus tidak ada yang istimewa dengan buku ini. Bahkan cerita filmnya pun tidak dikisahkan secara detail. Yang menarik mungkin lebih pada gambar-gambar yang tak akan kita temukan dalam film. Serta pemahaman kita setelah membaca buku bahwa proses pembuatan film itu tidak mudah. Persiapannya butuh beberapa tahun, dan biaya yang digunakan untuk memproduksi film pun tak sedikit. Salut buat Mira Lesmana, yang masih idealis membuat film-film bermutu untuk penonton di Indonesia.

Minggu, 25 November 2018

Resensi: A Piece of Love in Korea


Judul buku    : A Piece of Love in Korea
Penulis          : Deasylawati P
Tebal buku    : 287 halaman
Penerbit        : Gizone Books (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Tahun terbit   : 2012

Beberapa waktu lalu saya beli novel terbitan indiva yang sedang bikin proyek diskon 50%. Ini salah satu buku yang saya beli dari lima yang lain. Sesuai judulnya...hampir 80% dari novel bersetting di Korea. Kisahnya sendiri bercerita tentang Junaidi, seorang cowok berusia 27 tahun yang suka nonton drakor. Selain itu dia juga gamer sejak SMA. Nick namenya sebagai gamer adalah Jun Ai Dee (halagh). Nah si Jun ini punya sobat maya gamer juga dengan nick name F 123 atau lebih sering dia sebut F1. F1 itu cewek dan Jun ini cinta mati sama dia, walau cuma lihat dari selembar foto. Cinta itu dia pendam sampai mereka berpisah - sudah nggak ngegame lagi. Kemudian belakangan Jun tahu kalau si F1 sudah nikah. Galaulah dia sementara tekanan dari ibu dan saudara-saudaranya agar dia cepat nikah semakin kuat. Jun dikasih batas waktu dua bulan untuk mendapatkan calon istri. Kalau nggak dapat juga, kakak tertuanya akan mencarikan calon. 

Si Jun ini nggak suka dijodohkan. Ndilalah tepat dua bulan waktu habis, Jun menang lotere dengan hadiah dua hari jalan-jalan ke Korea (kebetulan banget nggak seh). Minggatlah ia ke Korea. Apesnya gak lama dari saat ia menjejakkan kaki di tanah kelahiran Gong Yoo itu, dompet berisi uang dan voucher nginep di hotel beserta hape dan seluruh identitasnya hilang. Saat sedang kalut kehilangan harapan, ada cewek yang kebetulan (lagi) adalah cewek Indonesia. Dan (kebetulan lagi) cewek ini ternyata adalah F1 yang digandrungi Jun sejak SMA. Busyeet kok bisa? Pan katenye F1 sudeh nikeh? (Eh kok jadi betawian gini yak). 

Jadi penjelasannya niy...waktu Jun lihat foto F1 ini lagi bedue ma sahabatnye. F1 niy gak pake jilbab sedangkan sahabatnye di foto make jilbab. Jun yang bego langsung aja mutusin sendiri kalau F1 itu yang jilbaban. Jadi selama bertahun-tahun dia mendamba wajah yang salah. Wajah yang tertukar kelees. Widih, maha benar reviewer dengan segala firmannya yak. Padahal gue kalau disuruh bikin novel engap-engapan. 

Secara keseluruhan, novel ini dituturkan dengan apik. Ngalir gitu bahasanya. Point plusnya Jun digambarkan sebagai muslim  taat yang gak pernah ninggal sholat, gak mau pacaran dan gak mau bersentuhan dengan cewek. Nggak terlalu sempurna macam Fahri-nya Kang Abik, si Jun ini punya segudang kekurangan juga, salah satunya suka ngelamun dan gampang cemas. Teledor. Ceroboh. Lebay. Aih, kok banyak banget, katanya cuma salah satu? Hahaha.




Kekurangan dari novel, di awal-awal penuh humor tapi mendekati ending jadi melow. Jadi hati pembaca ini macam terombang-ambing gitu, kakak... (halagh). Novel ini juga detil menggambarkan beberapa tempat di Korea. Tapi bagian ini banyak saya skip soalnya agak mbosenin. Nah gitu aja deh review suka-suka dari saya.
 



Rabu, 26 September 2018

Dandan Minimalis dengan Produk Wardah+

Hai, akhirnya saya nulis lagi setelah sekian minggu vakum. Kali ini kemunculan saya agak-agak centil, hehe, pakai posting gambar sebelum dan sesudah dandan segala. Yang mana postingan semacam ini belum pernah saya aplot di blog ini. So this is the first time.
Awalnya dari hobi suka lihat-lihat youtube, tutorial-tutorial make-up gitu. Trus tertarik pada projectnya produk SK II yang bareskin project. Ini proyek bagaimana perempuan diarahkan untuk berani tampil tanpa make-up, hanya mengandalkan kulit yang sehat setelah melakukan perawatan dengan produk perawatan SK II tentunya. Untuk lebih jelasnya coba deh browsing sendiri dengan kata kunci "bareskin project SK II". Intinya saya mupeng berat, namun sadar sesadar-sadarnya dengan budget yang minimalis untuk menggapai produk SK II yang harganya maksimalis menurut sudut pandang kantong sayah (halah).

Pagi ini entah kenapa saya sengaja untuk berangkat kantor ala bareskin gituh. Biasanya sih kadang bareskin juga kalau gak sempet dandan di rumah, trus dandan kalau sudah nyampe kantor. Tapi hari ini saya sengaja ceritanya, tes ombak gituh. Beneran, ombaknya kenceng...temen-temen pada komen kok pucet. Bu Asma, temen yang sudah agak senior dan lumayan deket sama saya malah langsung bilang: jelek, Indaah, sana buruan lipstikan!

Nah, karena itu akhirnya saya dandan deh kayak biasanya. Itu perlengkapan kosmetik memang selalu ada di tas kantor. Bukan perlengkapan juga sih, wong senjata andalannya cuma dua biji doang. Tapi kali ini akan saya tambahkan satu senjata jadi tiga biji. Setelah Bu Asma menyuruh saya dandan, tiba-tiba saya kepikiran untuk membikin postingan ini. Bercentil-centil sedikit, tapi siapa tahu postingan ini bermanfaat juga kan buat teman-teman yang mungkin gak bisa dandan dan pengen dandan dikit yang minimalis tapi sudah kelihatan beda dan bikin wajah segerr.

Senjata saya dari wardah, generally cuma dua biji aja seperti yang sudah saya sebut, yaitu BB everyday beauty balm cream (saya pakai yang light) dan matte lipstick nomor 08 yang warnanya cokelat-cokelat rada merah bata gitu, warna kesukaan saya. Kali ini saya tambah pensil alis eeealah, pensil alisnya bukan wardah melainkan oriflame, nih. Berarti untuk wardahnya beneran cuma dua senjata ya.

Gambar 1. BB Cream dan lipstick dari Wardah, serta pensil alis dari Oriflame

Sudah beberapa bulan ini saya memakai BB cream sebagai pengganti bedak dan alas bedak. Jadi hanya usek-usek BB secara merata di seluruh wajah, sudah cukup mencerahkan wajah sehingga tidak kelihatan pucat. Lalu lipstick hanya tinggal dioles secara merata di bibir. Nah soal pensil alis sebenarnya merupakan hal yang urgent untuk alis saya yang tipis...setipis irisan tempe yang bisa masuk ATM. Cuma saya tidak memakainya tiap hari karena walau urgent, saya tetap pede meski tampil hanya dengan alis asli ala kadarnya. Nah, berikut foto before and after setelah dandan minimalis. Kelihatan bedanya kan?

 Gambar 2. Dandan minimalis dengan kosmetik Wardah+

 Nah, demikian saja postingan kali ini, semoga bermanfaat, ya.

Kamis, 09 Agustus 2018

[Resensi Buku]: Seorang Wanita Penghiburpun Berhak Mencintai



Judul buku      : Gadis Berbunga Kamelia
Penulis             : Alexandre Dumas Jr
Penerbit           : Bentang
Tahun terbit     : Cetakan I, 2009
Tebal               : 319 halaman
ISBN               : 978-979-1227-47-6


Sebuah roman sastra biasanya ditulis dengan kalimat yang sederhana dan indah. Berisi kisah yang walau fiksi namun terasa nyata karena merupakan hasil renungan sang sastrawan/sastrawati tentang suatu peristiwa dan pandangan hidupnya pada peristiwa itu. 

Novel Gadis Berbunga Kamelia, awalnya saya beli karena tertarik pada judulnya. Penasaran pada frasa bunga Kamelia yang tersemat. Kenapa? Karena putri bungsu saya namanya Kamelia. Dengan alasan sentimentil ini saya mengawali membaca novel karya Alexandre Dumas Jr ini, seorang sastrawan Perancis terkenal pada zamannya. Novel La Dame aux Camelias (judul dalam bahasa aslinya) telah diadaptasi ke dalam lebih dari 20 film layar lebar. Wow.

Novel ini mengkisahkan seorang perempuan penghibur yang sangat cantik bernama Marguerite Gautier, khususnya mengenai sepotong kisah cinta dalam sepenggal akhir masa hidupnya bersama seorang pemuda bernama Armand Duval. Marguerite yang cantik sangat menyukai bunga Kamelia, karena itu ia juga terkenal dengan julukan wanita bunga kamelia. Walau telah menjajakan cinta ke banyak lelaki kaya dalam hidupnya, saat ia berhubungan dengan Armand Duval, Marguerite telah memutuskan untuk hijrah dari masa lalunya yang kelam. Ia berusaha melunasi semua utangnya, untuk kemudian hidup bahagia bersama Armand yang penghasilan tahunannya  tak terlalu besar. Tidak terlalu besar untuk gaya hidup Marguerite sebelumnya yang bergelimang kemewahan, namun cukup untuk hidup mereguk kebahagiaan bersama, dalam sebuah rumah kecil di pedesaan. Sangat romantis. Demikian juga untuk Armand, cinta Marguerite adalah cinta yang tak ingin ia bagi dengan lelaki lain. Walau demam asmara telah membuatnya lupa mengunjungi ayah dan adiknya, namun ia sudah merencanakan masa depan yang indah bersama Marguerite.

Benar, menjadi seorang wanita penghibur bukan berarti lalu ia tak berhak untuk bahagia. Marguerite sangat berhak untuk bahagia. Namun masa lalu kelam tak akan dapat terhapus begitu saja oleh satu upaya mulia Marguerite dan Armand demi cinta mereka. Sesuci apapun cinta mereka, tak akan dapat menghapus kesan yang tertanam di benak orang-orang yang menganggap diri mereka paling suci. Walaupun ia seorang wanita penghibur, Marguerite masih punya harga diri sehingga ia rela meninggalkan Armand demi permohonan seorang ayah yang khawatir pada masa depan anak-anaknya. Hingga di akhir masa hidupnya, Marguerite harus mengalami penderitaan-penderitaan yang ia tanggung dengan sangat tabah dan ia harapkan menjadi penghapus semua dosa-dosanya di masa silam.

Seperti kata si penulis di akhir cerita, tak semua wanita penghibur memiliki ketulusan hati seperti yang dimiliki Marguerite. Marguerite, adalah sebuah pengecualian. Karena jika ia bukan pengecualian, maka ia tak layak untuk dituliskan.

Siapapun termasuk saya pasti sebal dan mengutuk pekerjaan sebagai wanita penghibur, namun membaca novel ini saya menangis membayangkan penderitaan Marguerite. Ia hanya wanita penghibur yang masuk dunianya karena impitan kemiskinan. Ia mungkin lebih terhormat daripada pelakor. Ia mencintai tanpa berharap memiliki, sedangkan pelakor merampas kebahagiaan orang lain.

Minggu, 20 Mei 2018

Cerpen di harian Minggu Pagi: Nasihat Mama


Cerpen saya dimuat di harian Minggu Pagi, Jogjakarta sekitar bulan April 2018. Judulnya Nasihat Mama. Editingnya lumayan banyak, tapi bikin cerpennya jadi lebih enak dibaca. Berikut ini saya posting versi aslinya, cekidot.

 
Nasihat Mama

                Nggak ada tempat yang lebih nyaman di sekolah, kecuali kebun sekolah. Itu menurut Niar. Itu karena ia berbeda dengan temannya, para siswi SMA yang sedang menikmati masa-masa lebay. Cekikik sana, cekikik sini. Niar beda. Niar lebih suka tempat yang sunyi, di mana ia bisa membaca tanpa gangguan.
            Dan di sinilah selalu Niar berada tiap jam istirahat atau kapanpun ia punya waktu luang. Duduk di bangku menikmati semilir angin. Menatap bunga jagung yang berayun dan gerumbul tomat yang mulai meranum. Hasil kerja teman-temannya dari ekskul botani. Puas mengamati tanaman, Niar kembali menekuni bukunya.
            “Dor!”
Suara kencang Wida mengejutkan Niar. Ia memandang sahabatnya dengan bibir sedikit mengerucut.
“Selalu ada di sini,” ucap Wida tak peduli dengan kernyit di kening Niar. Gadis itu malah meniup permen karet yang ia kunyah sejak tadi, membuat balon besar di depan muka Niar. Plop! Balon permen karet pecah mengotori wajah Wida. Barulah Niar bisa tertawa gembira. Giliran Wida yang bersungut-sungut.
“Ayo, temani aku ke kelasnya Rajif,” ajak Wida setelah membersihkan wajah dari sisa permen karet.
“Rajif lagi,” gerutu Niar.
“Ayolah Niar. Aku pengen ngeliat wajah imutnya.”
“Pergi sendiri sana.”
“Nggak seru, Niar.”
Dengan langkah ogah-ogahan Niar menuruti kemauan Wida.
*
Rajif itu anak baru di kelas sebelah. Mukanya tampan karena ia keturunan India. Menurut Wida, lebih tampan dari Shaheer Sheik. Niar sih tak peduli. Ia tak tahu siapa itu Shaheer. Nasihat Mama selalu melekat di kepalanya. Jangan sering-sering memerhatikan cowok. Usiamu masih terlalu muda. Kalau sudah terjerat cinta remaja, seluruh pikiranmu akan terpusat pada cowok. Dan kelak pasti itu kamu sesali. Cinta akan datang pada waktu yang tepat. Dan menurut Mama, waktu yang tepat itu bukanlah waktu remaja.
Wida hanya nyengir saat Niar membeberkan nasihat Mamanya itu.
“Jadi karena itu kamu selalu membawa buku cerita ke sekolah? Dan tak pernah melepaskan pandanganmu dari buku? Hmm, menurutku justru kamu akan banyak kehilangan moment menyenangkan.”
Kali ini Wida menyeret Niar ke kantin. Duduk agak jauh dari tempat Rajif makan kudapannya. Dan curi-curi pandang pada cowok itu. Tak jemu-jemu Wida berceloteh perihal kegantengan Rajif. Niar mulai merasa jemu. Ia melihat banyak teman ceweknya cari-cari perhatian ke Rajif. Baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi seperti Wida. Niar mengalihkan pandang dari buku, dan mulai mengamati Rajif. Tak sadar ia sudah melanggar salah satu nasihat Mama.
*
            Mekarnya amaryllis di kebun sekolah menarik perhatian para siswi. Banyak yang berkunjung untuk sekadar selfie. Niar kehilangan ketenangan kebun sekolah di saat ia sedang membutuhkan tempat sepi untuk menata hatinya yang resah. Beberapa hari ini wajah Rajif selalu membayang di mata. Beberapa kali Niar menemukan dirinya menghabiskan waktu melamunkan cowok itu. Susunan kalimat Tere Liye dalam buku kesayangan tak lagi menarik hati. Hanya Rajif, Rajif dan Rajif yang menari menggoda hasrat. Niar tak suka perasaan ini. Semua gara-gara Wida. Semua gara-gara ia tak memegang teguh nasihat Mama.
            “Niar! Kenapa kamu nangis?” seruan kaget Wida menyadarkan Niar.
            Di sudut kebun sekolah, Niar menemukan alasan dalam bentuk seekor capung yang terbang menjauh.
            “Aku sedih lihat capung itu seperti terusir dari kebun, gara-gara banyak teman yang datang.”
            “Astaga Niar, capung aja kamu pikirin. Yuk, temani aku nontonin Rajif.”
            Ada yang bergemuruh di dada Niar saat Wida menyebut nama Rajif. Agar Wida tak curiga, Niar mengikuti langkah sahabatnya ke kantin.
            Kantin ramai. Seperti biasa, Rajif ada di salah satu meja, sedang makan siang. Wida menyenggol lengan Niar keras.
            “Rajif ngeliatin kamu, Niar.”
            Gugup, Niar menjatuhkan bukunya. Saat ia berdiri setelah menunduk mengambil buku yang terjatuh, Rajif sudah berdiri di hadapannya.
            “Hai, kamu Niar, ya? Kenalkan namaku Rajif.”
            Niar terpaku. Wida mencubit-cubit kecil tangan Niar.
            “Aku sudah beberapa hari ini memperhatikan kamu, Niar,” lanjut Rajif. Niar dan Wida semakin resah. Niar tak dapat mengalihkan tatapannya pada Rajif. Wida lebih-lebih. Terheran-heran menebak apakah Rajif suka pada Niar?
            Rajif tersenyum manis, meraih buku yang masih dipegang Niar.
            “Kamu ternyata suka novel karya Tere Liye, ya? Aku juga. Aku pinjam bukunya, ya?”
            Niar ternganga. Ternyata cuma mau pinjam buku?
            “Oh … eh … iya, silakan. Bawa aja bukunya.”
            Rajif melenggang sambil memegang buku. Niar terduduk sambil mengembuskan napas lega. Fiuh. Wida terbahak.
            “Ya ampun, nyaris gue patah hati dan berencana ngemil obat nyamuk. Kirain….”
            Niar mencoba tertawa juga. Tapi ada yang nyeri di hatinya. Duh, saat ini Niar butuh nasihat Mama.*

Rabu, 04 April 2018

[Resensi]:Seumpama Matahari

Keputusan Seorang Mantan Pemberontak

Judul               : Seumpama Matahari
Penulis             : Arafat Nur
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : I, Mei 2017
Tebal               : 142 halaman
ISBN               : 978-602-391-415-9



            Kekuatan Arafat Nur dalam merangkai kata tidak perlu diragukan lagi. Penulis asal Aceh ini pernah memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan meraih Khatulistiwa Literary Award 2011 untuk novelnya yang berjudul Lampuki. Novelnya Tanah Surga Merah kembali memenangkan sayembara serupa pada tahun 2016. Hampir seluruh novel karya Arafat Nur menggunakan latar belakang peperangan Aceh ataupun kondisi politik Aceh pasca perang. Demikian pula dengan novel Seumpama Matahari ini, mengangkat satu episode perjalanan hidup seorang mantan pemberontak bernama Asrul.
            Asrul anak sulung dari dua bersaudara. Ia hidup hanya dengan ibu dan adik perempuannya. Bapaknya sudah lama mati, dibunuh tentara. Kematian bapaknyalah salah satu alasan Asrul bergabung dengan pasukan pemberontak, menjadi gerilyawan yang tinggal di hutan dan berjuang melawan tentara. Untuk itu ia rela hidup terpisah dengan ibu dan adiknya selama tiga tahun.
            Kisah dalam novel ini diawali dengan adegan Asrul dan dua orang temannya di dalam hutan, berusaha membebaskan diri dari serbuan tentara. Mereka dapat sampai dengan selamat di markas, dan setelah kejadian tersebut, Asrul memutuskan untuk pulang dan bertemu dengan ibu serta adiknya. Dalam perjalanan ke rumahnya, Asrul berjumpa dengan dua orang perempuan kakak beradik dan sempat bertukar canda dengan mereka (hal 33). Di sini terlihat tokoh Asrul hampir serupa dengan tokoh-tokoh dalam novel Arafat Nur lainnya. Tokoh utama dalam novel Arafat hampir selalu pria usia tiga puluhan dengan penampilan menarik dan menimbulkan rasa tertarik gadis yang melihatnya. Demikian juga Asrul dalam pertemuan pertamanya dengan Putri, sudah menimbulkan kesan di hati gadis itu, begitu juga sebaliknya.
            Tak lama setelah Asrul pulang ke rumahnya, ternyata ada kabar yang menyebutkan bahwa markasnya di hutan habis digempur tentara. Zen, sang pemimpin, menjadi satu-satunya yang berhasil melarikan diri dan kemudian menelpon Asrul untuk memperingatkannya. Asrul langsung memutuskan untuk pergi menyelamatkan diri dari rumah dan berusaha memperoleh pekerjaan di Riau. Sayangnya setelah dua bulan tinggal di rumah kost, ia harus terusir karena tak juga mendapatkan pekerjaan. Saat itulah ia hidup menggelandang dan makan dari mengorek-ngorek sampah. Mujur, suatu hari di terminal, ia bertemu kembali dengan Putri dan adiknya. Kedua perempuan ini dengan senang hati menolongnya bahkan mengizinkannya tinggal di rumah mereka. Lambat laun, kedekatannya dengan Putri membuat Asrul ingin hidup normal sebagai manusia biasa. Bahkan ia memutuskan untuk tidak kembali bergabung dengan pemberontak, walau Zen memanggilnya untuk bergabung dengan kelompok pemberontak yang lain.
            Keunikan dari novel ini adalah karena jalan ceritanya tidak murni dari olah pikir seorang Arafat Nur. Novel ini ditulis berdasarkan catatan gerilya Thayeb Loh Angen, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kemudian menjadi penulis dan jurnalis, sehingga kisah yang diceritakan sebagian besar adalah berdasarkan fakta. Membaca novel ini akan membuat kita memahami mengapa orang Aceh memilih menjadi pemberontak, lalu mengapa ia memutuskan untuk menjalani hidup baru sebagai orang biasa. Setiap orang punya alasan dalam membuat sebuah keputusan. Pilihan masing-masing individu itulah yang dapat menjadi bahan pelajaran atau cermin kita sendiri dalam menjalani kehidupan.

Jumat, 16 Februari 2018

[Review]: Dilan 1990, kresek oh kresek

Kamu sudah nonton Dilan 1990, belum? Nonton, gih. Tapi kalau sudah baca bukunya dan lagi nggak punya uang, mending nunggu tayang di televisi aja. Lho kenapaaa? Karena filmnya sama kok, dengan bukunya. Malahan lebih komplit versi buku, karena mungkin faktor durasi dan estetika ya, jadi beberapa adegan dan dialog tidak muncul di film.

Sebelumnya saya mau cerita kenapa saya dulu bela-belain beli novel trilogi Dilan. Sebelum-sebelumnya saya nggak tertarik, tapi kemudian saya baca di medsos saat rame-rame audisi pemeran Dilan (waktu awal filmnya mau dibikin dulu). Kok, pada protes kalau yang meranin Dilan itu Iqbaal sih? Katanya gak pantes, terlalu manislah, masih keinget coboy juniorlah, dst, dst. Saya jadi mikir, emang karakter Dilan itu kayak apa sehhh ... akhirnya belilah saya ketiga novel itu, dan membacanya di sela-sela kesibukan belajar mau ujian thesis, dhuarr. Dan saya sukaaaa kisah yang ditulis Pidi Baiq ini. Sempat mikir kayaknya aman-aman aja kalau Iqbaal yang meranin deh. Terbukti kemudian banyak yang baper setelah nonton filmnya.

Ketika filmnya tayang, saya sudah pesimis mau nonton nih. Secara suami sudah jarang banget mau nonton. Andalannya kalau enggak donlot yutub ya tunggu tayang di televisi. Eh, ndilalah putri saya pas pulang massal dari pondok kok pingin nonton Dilan (Hmmm, boleh nggak sih, santriyah nonton Dilan? Kalau nanya ke ustadzahnya pasti nggak boleh yak). Suami bilang boleh kalau mamamu mau. Apaaa? Enelan? Ciyuuus? Walau wajah saya pasang flat di depan suami, dalam hati saya bilang yes! (macam Dilan waktu diberitahu Piyan kalau Milea tuh nggak pacaran sama Nandan, kok -- eh apaan seh).

Baiklah, akhirnya menontonlah saya sama putri saya. Berhubung nontonnya di jam pertama di mana itu emol baru aja buka, maka saya iseng menghitung penonton yang ikut nonton bareng saya. Tiga remaja cowok, sepasang mbak dan mas, dan sepasang suami istri dengan satu anak balita (hedeww ibuk, mau nostalgila 90-an mah titip dulu anaknya atuh). Intinya masih sepilah.

Film Dilan 1990 ini, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, dibuat nyaris sama dengan bukunya. Jadinya sepanjang film saya bisik-bisik sama putri saya, mencocok-cocokkan dengan isi buku karena putri saya juga sudah khatam baca trilogi Dilan. Intinya jangan nyari film kualitas oscar dengan jalan cerita penuh konflik dan berbobot lho ya. Film ini ringan saja, berisi kisah cinta antara dua anak SMA tahun 1990 yang digambarkan dengan unik, seru dan lucu. Fokus dalam film ini tentu si Dilan yang digambarkan pinter ngerayu dengan gaya out of the box. Dan Dilan ini dikisahkan sebagai anak yang suka nulis puisi, jadi memang dia punya kekuatan kata-kata ... ciee, kekuatan kata-kata. Beda lho ya sama yang ono noh, mas VP.

Kisah dimulai saat Milea berangkat sekolah, jalan kaki dan Dilan menjejeri dengan motor. Kamu Milea, kan?

Kamu Milea, kan?
(gambar dari sumsel.tribunnews.com)

Sejak itu Dilan beberapa kali menarik perhatian Milea, dengan pesan-pesan lucu melalui surat yang dikirim lewat temannya, juga tingkahnya yang aneh. Milea sempat menjuluki Dilan dengan sebutan orang aneh ketika malamnya Dilan sempat datang ke rumah dan bertemu Papa Milea.Waktu itu Dilan nggak ketemu Milea tapi Dilan mengenalkan diri sebagai utusan kantin yang menawarkan menu baru. Aneh banget kan? Kali lain, Dilan menitipkan cokelat buat Milea, lewat tukang koran.Lebih aneh lagi pas Milea ultah, Dilan ngasih kadonya berupa TTS yang dalamnya sudah keisi semua. Milea aku sayang kamu, karena itu TTSnya sudah kuisi semua, aku nggak mau kamu pusing...

Beberapa quote Dilan dalam film ini yang sempat saya ingat:


Aku tidak mau membuat kamu cemas. Biar aku aja yang mencemaskanmu (Ini waktu ada serangan geng motor ke sekolah Dilan dan Milea cemas nyariin Dilan)


Siapapun dia kalau tidak mau menghargai orang, tidak akan dihargai (Ini waktu Dilan emosi setelah ditampar oleh gurunya)

Apakah saya termasuk yang baper melihat Iqbaal, eh Dilan? Nggak terlalu baper sih, karena saya nggak punya kisah romantis zaman SMA. Saya justru baper ngelihat kresek dalam film Dilan. Kok, kresek? Iya, itu kresek yang dipakai Dilan bungkus hadiah buat ultah Milea dan kresek yang dipakai bungkus krupuk. Itu kok pakai kresek warna garis-garis hitam putih, sih? Seingatku itu kresek sangat kekinian banget deh. Lebih baik pakai kresek warna hitam polos atau putih polos, atau pakai tas dari kulit binatang (eh itu mah zaman dinos yak). Yang jelas lebih salah lagi kalau kreseknya ada logo indo*aret yak, wkkk. Indomaret belum ada mbak waktu itu. Iyaaaa, sudah tahu! Apalagi tahu bulat, jelas belum ada. Di zaman itu, tahu masih kotak-kotak. (Waktu saya nyetatus masalah kresek ini di pesbuk, seorang mbak berkomentar dan mengkonfirmasi bahwa di 1990, kresek seperti itu sudah ada dan dia sering belanja kue pakai kresek kayak gitu. Ooowh baiklah kalau begitu, saya ndak jadi baper).

Terus, apalagi yang menarik di film ini? Bagi remaja zaman sekarang, alias ABG asli, ketampanan wajah Iqbaal dan kekiyutan wajah Vanesha mungkin yang paling menarik. Tapi bagi remaja masa lalu alias ABG tahun 1990, yang menarik adalah kenangan-kenangan jadul yang seolah teraduk kembali menarik waktu berjalan mundur. Salah satunya yang menarik perhatian saya sebagai salah satu wakil dari ABG 1990-an, adalah ngobrol via telepon umum dan telepon rumah. Hmmm. Walaupun di zaman itu saya tidak punya seseorang yang seromantis Dilan, bahkan sejujurnya tidak punya seorang pacar pun (jomblo ni ye), saya paling suka ngobrol via telepon begini. Tapi nggak kayak Milea yang kalau terima telepon rapi banget duduk di kursi, saya bisa jumpalitan antara duduk, ndlosor di lantai, tengkurep, seenak-enaknya posisi deh, sampai-sampai dimarahi mama. Hei, sudah sudah telepon gak brenti-brenti, nanti kalau ada telepon masuk, nggak bisa lho. Ah, iya. Setiap masa mempunyai kenangannya masing-masing. Walaupun di masa itu aku tak punya Dilanku, tapi aku tetap mengenang masa itu sebagai salah satu masa yang terindah. Di mana kesulitan hidup terbesar adalah PR Matematika (quote diambil dari entah).

Nah, siap nonton Dilan, yang sampai detik ini sudah menempati posisi film terlaris nomor dua di Indonesia sepanjang masa? Yuk, yuk nonton. Tapi jangan terlalu tinggi ekspektasi ya. Nontonlah dengan tujuan menghibur diri. Yang baik-baik diambil, yang jelek-jelek dibuang. Karena Dilan, sejatinya hanya remaja biasa yang seperti remaja seusianya punya emosi yang mudah tersulut. Kalau saya diminta ngasih rate dari 1 - 5, saya ngasih rate 3 untuk film Dilan. Kabur ah, sebelum ditimpuk penggemar Dilan, hehehe...

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES