Selasa, 19 Januari 2016

Kerepotan yang (kelak) Dirindukan

Pagi itu saya ada perlu mengunjungi sebuah perpustakaan. Penjaganya seorang ibu yang lebih tua dari saya. Kami pun bercakap-cakap sejenak sebelum saya menenggelamkan diri untuk mencari pustaka. Ibu penjaga perpustakaan bertanya berapa anak saya dan hal-hal yang ringan semacam itu. Ternyata kami sama-sama memiliki tiga orang anak. Bedanya, anaknya perempuan semua dan yang kecil sudah SMA kelas 3, sedangkan anak saya dua perempuan, satu laki-laki - umur 10, 7 dan 6 tahun.

Ibu Ratna (bukan nama sebenarnya), si pustakawati mendesah, mengatakan beruntungnya saya punya anak yang masih kecil-kecil. Anaknya sudah besar semua dan kalau semua sedang izin pergi bersama temannya, ia rasanya kesepian menghabiskan hari hanya berdua dengan suaminya.

Saya tersenyum, teringat sebuah kisah inspiratif yang pernah saya baca di sebuah media sosial.
"Kata kisah itu, Bu. Yang masih punya anak kecil, bersabarlah. Itu tidak akan lama. Tiba-tiba saja mereka beranjak besar dan semua kerepotan yang dialami, kelak akan menjadi kerepotan yang dirindukan," saya menceritakan kisah itu pada bu Ratna.

"Ya, itu benar sekali," kata bu Ratna. Air mata mulai mengaliri pipi wanita itu. "Saya sudah mengalaminya. Yang sedang saya tunggu sekarang hanya cucu dari anak saya yang sudah menikah."

Sayapun menangis. Mengingat saya masih suka mengomel kalau anak saya rewel. Saya janji akan lebih woles. Menikmati semua kerepotan punya anak-anak yang masih kecil. Karena kelak, kerepotan ini akan saya rindukan.

*teriring kecupan dan doa untuk ketiga anak saya, Nina, Emir, Amel*
*teriring rindu untuk sulung saya di surga, the beloved Naufal*


4 komentar:

  1. Oh huibat. Brani mlahirkan empat kali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuwi ngono takdir, Mbak...hehe. Bukan masalah berani atau enggak.

      Hapus
  2. Jadi teringat quote "Anakmu Bukan Anakmu" .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya mbak Deassy ya, Un? Belum baca saya....

      Hapus

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES