Senin, 21 November 2016

Ketika Lagu Bisa Demikian Menyentuhmu

Selama ini saya menyanyi dalam kadar penghayatan yang sedang-sedang saja. Yah boleh dikata agak lebay dikitlah. Contohnya sewaktu saya menyanyikan lagu nasional "Tanah Airku". Walaupun saya belum pernah pergi jauh, belum pernah jalan-jalan di banyak negeri, tapi saya tetap mewek jika menyanyikan lagu tersebut dengan serius.

Ini penggalan lagunya: ...."Walaupun saya, pergi jauh. Tidakkkan hilang dari kalbu. Tanahku yang kucintaiii. Engkau kuhargaiii.

Adapun lagu-lagu cinta, tidak pernah memberi efek yang gimana gitu buat saya. Mungkin saya memang tidak romantis? Entahlah.

Tapi kemudian perjalanan hidup saya mengantarkan saya pada satu pemahaman bahwa lagu memang bisa membawa manusia yang mendengarkannya terbang di awang-awang, atau terpuruk dalam kesedihan, atau bergelora dalam semangat, atau apapun itu tergantung lagunya.

Saya ada seserpih cerita. Adalah seorang lelaki yang dalam perjalanan hidupnya mungkin pernah khilaf menyukai saya yang tidak sempurna ini. Kami bertemu kembali dalam kondisi sudah sama-sama berkeluarga dan memutuskan untuk menjalin persahabatan yang baik. Kebetulan ternyata kami sama-sama suka film genre tertentu sehingga kadang kami terlibat obrolan seru tentang film dan lain sebagainya. Kadang dia mengirimkan lagu.

Suatu saat saya mendengarkan lagu Rossa dan dengan iseng saya mengirimkan lagu tersebut untuk dia. Ternyata, dia mengaku menangis mendengarkan lagu yang saya kirim tersebut.

Ini penggalan lagunya:

Aku menyesal tlah membuatmu menangis,
Dan biarkan memilih yang lain,
Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu,
Pasti itu terbaik untukmu

Janganlah lagi kau mengingatku kembali,
Aku bukanlah untukmu,
Meski kumemohon dan meminta hatimu,
Jangan pernah tinggalkan dirinya untuk diriku.

Hmm, setelah saya pikir-pikir, memang sebuah lagu itu kadang dapat sangat meracuni pikiran. Apalagi jika isi lagunya sesuai dengan pengalaman hidup kita. Inti dari postingan ini, pandai-pandailah memilih lagu dan memilihkan untuk anak-anak kita. Cari lagu yang positif yang dapat membangkitkan semangat optimisme dalam hidup, meningkatkan rasa cinta pada tanah air, lingkungan sekitar, sesama manusia dan agama.
Lagu cinta-cintaan...? Bolehlah, tapi jaga hati biar nggak terlalu baper ndengerinnya.

Sebagian ulama mengharamkan musik dan lagu, mungkin karena alasan bahwa lagu dapat membuat kita lalai. Jadi jangan lalai, tetap menjalankan semua kewajiban hidup dan mendengarkan musik sebagai pemanis.

Senin, 19 September 2016

Membuat E-KTP

Pagi ini saya diantar suami pergi ke kecamatan Biringkanaya, untuk mengurus pembuatan E-KTP. Karena beberapa minggu sebelumnya suami sudah pernah mengurus, jadi saya sudah tahu persyaratan apa yang harus disiapkan. Syaratnya mudah, yaitu fotokopi kartu keluarga dan fotokopi ijazah terakhir. Kami langsung berangkat setelah absen di kantor. Belum pukul 08.00 ketika kami tiba di kecamatan, tapi yang mengantri terlihat mulai ramai.

Suami memasukkan berkas dan kemudian kami duduk berdua menunggu nama saya dipanggil. Tak sampai satu jam (kayaknya nggak sampai satu jam, tapi perasaan lama banget karena saya sampai ngantuk-ngantuk), nama saya dipanggil dan saya segera masuk. Saya mendapatkan nomor antrean foto, yaitu nomor 24. Saya keluar duduk lagi menunggu dengan sabar (lumayan sambil melakukan hal-hal geje di grup WA SD).

Kurang dari setengah jam, nomor saya dipanggil. Saya masuk dan disuruh menunggu panggilan foto bersama semua orang dengan nomor antrean 16-25. Seorang petugas menaikkan volume suara menyuruh orang-orang yang tidak berkepentingan untuk keluar dulu. Hmm, dalam ruangan tunggu yang juga berfungsi sebagai ruang macam-macam urusan itu sudah sangat penuh. Saya pun hanya bisa menunggu (backsound: lagu kumenunggu, dari Rossa)

Nomor antrean 24!
Saya masuk ke ruangan lain di mana seorang mas-mas menghadap komputer sedang meladeni seorang pemuda untuk menjalani rangkaian pembuatan E-KTP. Jadi begini, awalnya saya disuruh duduk manis menunggu giliran si pemuda. Sambil menunggu tentu saja saya cermat mengamati tahapan apa saja yang harus dilakukan.

1. Duduk tenang di depan kamera. Serahkan berkas fotokopi KK dan ijazah pada mas-mas yang bertugas. Sebenarnya kurang tepat aku memanggilnya mas-mas. Mungkin daeng-daeng lebih tepat. Si daeng akan mengetik data nomor induk dan nama di layar komputer. Memastikan bahwa namamu adalah nama yang tertera di KK. Lalu dia akan menarik layar di tembok belakangnya untuk memberi background merah sebagai latar foto, dan menyuruhmu menatap kamera.

2. "Senyum," itu pesannya sebelum merekam detil wajah dengan kamera. Wah, terus terang saya senang dengan arahan untuk tersenyum itu. Berarti foto KTP akan menjadi terlihat lebih menarik dengan senyum senyum bertebaran. Tapi kenyataannya saya tidak bisa senyum terlalu lebar. Karena saya tidak yakin apakah senyum yang dimaksud itu cukup menyunggingkan sedikit bibir agar terlihat melengkung ke atas, atau senyum lebar, atau senyum sok imut. Ah, seharusnya tadi saya tanyakan.

3. Setelah difoto, saya harus tanda-tangan elektrik, merekam sidik jari, tanda tangan sekali lagi. Terakhir keluar untuk mendapatkan resi pengambilan E-KTP yang akan jadi tanggal 27 Oktober 2016. Berarti sebulan lebih. Yah, tak apa. Menunggu saja dengan sabar.

Demikianlah tahap-tahap pembuatan E-KTP. Tidak susah dan tidak pakai lama (nunggu jadinya aja yang lama sebulan lebih). Apalagi kalau ngantrenya mulai pagi-pagi sekali.

Ini KTP lama saya yang masih dibuat secara manual.

Jumat, 02 September 2016

Jangan Menolak Tua

Semingguan ini punggungku terasa panas. Bukan, bukan karena kelamaan duduk menghadap laptop menyusun laporanku yang tertunda. Kalau karena hal itu, biasanya muncul saat aku sudah tiga jam duduk. Tapi ini … panas punggung terasa mulai dari saat aku bangun tidur sampai aku tidur lagi. Pas tidur nggak terasa lagi. Ya iyalah.

*
Aku sudah diskusi dengan bidan pribadiku, ciee, bidan pribadi. Benar, temanku, sahabatku Dyah yang jadi bidan di pelosok Tuban, sudah kutahbiskan menjadi penasihat medis pribadiku. Terserah dia keberatan atau tidak, wong konsulnya juga hanya sebatas ngobrol di WA. Hahaha. Nah, bidan manis itu sudah setengah memaksaku minum simvastatin untuk kolesterolku. Tak apa minum obat dari pada kamu selalu berkeluh kesah, katanya. Tapi yah, daku memang bandel dan bertahan hanya menjalani terapi koles dengan mengurangi makanan berlemak dan olah raga. Gaya banget ya? Hmmm.
*
Nah, berhubung panas punggung terasa makin mengganggu, akhirnya aku menyerah dan segera pergi ke dokter sekaligus konsul tentang hasil cek kolesterolku tempo hari. Dokter mendengarkan keluhanku dengan seksama, lalu bertanya. 
“Ibu umur berapa?”
Di depan dokter, untuk alasan kesehatan, Anda tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu dengan candaan: “Dokter mau tau aja, apa mau tau bangeeet?”
Akhirnya kusebutlah angka sakral itu. 
*
“Baiklah, Bu Indah. Semua gejala yang Ibu sebutkan itu wajar saja untuk orang seusia Ibu.”
What?
“Dengan bertambahnya usia, secara normal semua organ-organ tubuh akan mengalami penurunan fungsi. Ibu harus menerima kenyataan ini.”
What?
Apakah tampak di dahiku tulisan “Menolak Tua”, Bu Dokter yang terhormat?
Tapi aku hanya menanggapi dengan tawa dan senyum manis, … 
“Hehee, iya, Dok. Saya menolak tua.” Dokter pun tertawa … entah apa arti tawanya. Apakah karena dia juga sama sepertiku? Huehehe. 
*
Kami pun berdiskusi mengenai pengobatan yang harus kujalani. Dan aku diberinya tiga resep obat yaitu: Vitamin B kompleks untuk pegal-pegal, penahan nyeri untuk sakit punggungku, dan simvastatin untuk si koles. Plus … tetap hidup sehat banyak minum air putih, kurangi gorengan, kurangi protein hewani, perbanyak asupan buah dan sayur, serta rajin olah raga.
*
Kamu gimana, sudah hidup sehat, kan? Sudah minum air putih, belum? Makan buah dan sayur? Sudah berhenti merokok? Sudah olah raga? Keep healthy… 
*
Oh, ya ... postingan ini sebelumnya kutulis sebagai status facebook. Dan ada komentar yang bagus dari seorang sahabatku yang juga seorang dokter. Baiklah akan kusalin saja di sini. Himbauan dari Kementerian Kesehatan, kita harus CERDIK mengelola kesehatan.

C -- Cek kesehatan rutin
E -- Enyahkan asap rokok
R -- Rajin Olah Raga
D -- Diet Seimbang
I -- Istirahat cukup
K -- Kelola Stress dengan baik

Yuk, tetap sehat dan jadilah orang yang CERDIK...




Menua menjadi memesona (kupu-kupu)

Minggu, 28 Agustus 2016

Memulai Olah Raga Lari: Jurnal Minggu 28 Agustus 2016

Aku lari lagi. Ya, harusnya dua hari sekali, tapi aku baca di sebuah artikel, tak apa lari lima kali dalam seminggu untuk pemula. Sedangkan Murakami bilang, ia berlari setiap hari. Murakami? Dia penulis terkenal dari Jepang dan sekaligus pelari yang tangguh. Aku terinspirasi dari dia juga saat memulai olah raga lariku. Kapan-kapan kuceritain tentang bukunya Pak Murakami tentang lari. Soalnya aku belum khatam baca buku itu.

Kali ini aku keluar rumah pukul 05.30 dan memutuskan untuk ke jalur utara. Seperti biasa aku pemanasan sejenak dan kulihat seorang pelari berkaus hitam lari ke arah utara. Wow, ini pertama kalinya aku melihat ada teman berlari di sepanjang jalan Palagan ini. Dan itu membuatku bersemangat dan termotivasi. Oke, let's start.

Aku mulai lari sambil mengatur napas dengan sebaik-baiknya agar tidak ngos-ngosan. Seperti biasa aku menyelingi lariku dengan jalan sesekali. Dan yang sangat menyenangkan aku sekarang bisa lari/jalan mencapai satu kilometer (sampai di minimart yang pernah kuceritakan kemarin). Wow rasanya puas sekali dan aku bahkan berkeringat di sepanjang perjalanan. Ini pertama kalinya aku lari/jalan pagi dan merasa bahagia luar biasa. Aku mulai menikmati aktivitas ini. Semoga saja istiqomah ya.


Memulai Olah Raga Lari: Jurnal Sabtu, 27 Agustus 2016

Hari ini aku mulai lari saat sinar matahari mulai menerangi bumi, tepatnya pukul 05.30 pagi. Rute kuubah ke arah selatan, jalanan menurun. Rencana jalan kaki full 30 menit. 15 menit turun, dan balik 15 menit kemudian. Lho kok jalan kaki? Ya, walaupun agak berubah dari rencana awal (niat lari pagi), tapi hari ini aku mau membuktikan ucapan temanku bahwa aku sebenarnya nggak usah lari tapi cukup jalan kaki selama 30 menit asal rutin dan itu sudah mengeluarkan keringat. Oke.

Aku jalan seperti yang kumau dan lumayan jauh juga walau tidak mencatat waktu. Apakah selama 30 menit itu aku berkeringat? Ya, ternyata memang berkeringat, walau nggak terlalu yang gimana gitu. Hanya sumuk sithik, kata orang Jawa, atau gerah dikit. Langit cerah dan suasana hatiku lumayan baik. Eh ... aku lupa, sebenarnya suasana hatiku tak terlalu baik. Tapi udara segar ternyata memang sangat ngefek untuk mengembalikan mood-ku.

Gambar dari google

Sebenarnya mana yang lebih baik, lari atau jalan? Dari beberapa artikel yang kubaca, sebenarnya semua terpulang pada kita sendiri. Olah raga lari jelas menguras energi lebih banyak dari olah raga jalan kaki. Anda boleh memutuskan untuk olah raga lari tapi tidak boleh berlebihan. Dan jika memutuskan jalan kaki, harus konsisten. Nah, kalau aku memutuskan untuk lari dan jalan, perpaduan antara keduanya, selama aku belum kuat lari terus menerus. Menurutku lari itu lebih keren dari pada jalan kaki, huahaha ... mau nurunin kolesterol apa ngejar keren sih buk. Yah begitulah kalau bisa ya dua-duanya.

Ohya, olah raga jalan kaki ternyata banyak juga manfaatnya lho. Kapan-kapan akan kuresume deh apa saja manfaatnya. Untuk sekarang, cukup sekian dulu, ya....

Rabu, 24 Agustus 2016

Tiga Hari Penuh Cinta: Rehat Lari, Cheating, Reunian

Hari ini Selasa (23 Agustus 2016) dan mulai hari Jumat kemarin (lima hari) aku belum lari lagi. Astaga, ada godaan apa? Kamis malam aku berangkat ke Malang dengan tujuan selama tiga hari: Jumat, Sabtu, Minggu aku akan menemani orangtuaku sebelum mereka berangkat haji. Sebenarnya niat untuk lari ada, bahkan aku bawa training dan kaus lariku.

Jumat pagi (19 Agustus 2016) jam empat, aku sampai di Malang dan melirik rak sepatu. Ada sepatu Mamaku yang bisa dipinjam. Tapi subuh itu Mamaku minta diantar jalan-jalan sekalian belanja. Aku nggak kepikiran ganti sepatu bahkan ganti bajupun tidak. Langsung temani Mama jalan-jalan pagi. Aku lari-lari kecil di sebelah beliau, walau hanya pakai sendal jepit.

Jumat ini aku berencana ketemu teman-teman lama di Malang. Pagi aku ketemu sahabatku SMP, Mulyaningtyas yang biasa kupanggil Tyas. Tyas datang ke rumah bersama putri bungsunya, Vania. Kami ngobrol seru sambil lihat-lihat foto jadul. Lalu seperti biasa wefie sambil tak habis-habis ketawa. Ini wefie kami yang fenomenal.



Siang hari aku berencana makan siang di dekat rumah, ditemani sahabat yang lain. Kali ini aku hanya makan salad buah dan minum jus strawberry, demi kesehatan, walaupun saladnya full mayo, hmm dan jusnya terlalu manis (lupa minta gulanya dikurangi). Lalu aku pergi ke Matos, beli sebuah buku tentang sesuatu yang sudah lama ingin kubaca. Baru sekitar setengah jam di Matos, ponselku bunyi. Kakak tercinta menelepon mengatakan bahwa ia ada di rumah dan sudah memesan bakso langganan buat aku. Hmmm, sebenarnya bakso adalah makanan yang harus kupantang, tapi tak apalah cheating kali ini. Aku meluncur pulang. Di mikrolet sahabatku waktu kuliah menghubungi dan berjanji akan datang ke rumah.

Sampai di rumah sudah menunggu sebungkus bakso rudi (nama yang jual itu rudi). Aku sengaja tak memakannya tapi menunggu sahabatku datang agar kami bisa makan semangkuk bakso berdua, ahahahaaa. Romantis atau ngirit atau pelit...huahaha.
Dan datanglah sahabatku itu ke rumah, lalu ngobrol seru, makan bakso dan wefian lagi. Hmm, wefienya burem-burem, gak usah diaplotlah. Niy kalau sahabatku itu baca pasti protes karena fotonya gak diaplot ... hihihi. Sabar say, kau tlah teraplot di hatiku, huhuy....

Sabtu bukan jadwal lari. Pagi datang temanku membawakan hadiah untuk Mamaku. Yang ini lupa foto. Dan ia juga hanya sebentar singgah di rumah, karena mau buru-buru arisan sesama dosen perikanan, jiahh. Salam ya, Wik ... buat Pak Agus dan Pak Ismadi (disampaiin nggak?), dan terima kasih untuk hadiah buat ibuku ... kapan-kapan aku yaa yang dikasih hadiah, hehehe.

Siangnya datang sahabat sebangku waktu di kelas 1 SMA, Elfin. Ngobrol seru dan cekikikan terlebih saat hendak wefian, baru kutahu ia gaptek mengoperasikan ponselnya sendiri. Ngakak kami gak jadi selfie ... lha wong aku juga gaptek dan kebetulan PLN hari itu lagi rajin bener-benerin kabel, sehingga ponselku mati seharian karena gak bisa dicharge. Selepas temanku pergi, aku buru-buru siap-siap ke bhaswara kafe, janjian sama temen-temen SMA yang mau ngobrolin rencana reuni Desember. Ini nih ada fotonya.



Pulang dari bhaswara aku siap-siap membantu orangtuaku yang lagi ada tamu. Bikinin minum, ngeluarin kue, lalu ikut-ikut ngingetin apa yang harus mereka siapkan untuk dibawa ke tanah suci. Pukul 02.00 dini hari, aku nganter mereka ke agen "Saudaraku" berangkat naik bus ke Surabaya - Jakarta - Jeddah. Pulangnya aku langsung tidur bareng kakak tercinta dan ponakan di rumah mereka di Villa Tidar Indah.

Tidur pukul 03.00 tak membuatku kebablasan, karena otomatis pukul 06.00 aku terbangun dan melihat kakakku usai sholat. Aku sendiri lagi nggak sholat. Kakakku balik lagi ke kasur cek-cek ponselnya. Akupun ngecek ponsel sambil sesekali ngobrol sama kakak. Tiap obrolan kami menjadi lebih seru, ponakanku yang tidur di tengah langsung gerak-gerak di balik selimutnya. Hahaha, pasti suara tawa kami sangat mengganggunya. Biarin...hihihi.

Kami akhirnya bangun dan mandi pada pukul ... ah tak usahlah ditulis pukul berapa, ya? Kakak menawari apakah aku mau ke CFD atau makan rawon saja? Pilihannya antara rawon tessy atau rawon nguling? Hmm, aku belum pernah ngerasain rawon yang terkenal itu. Tapi itu berarti aku akan cheating untuk yang kedua kalinya. Okelah tak apa. Coba rawon tessy ... yang ternyata rasanya biasa-biasa saja kalau menurut aku sih. Lebih enakan rawon made by my mother. Tiwas cheating yooo....

Dari rawon tessy kami putar-putar menghindari macet karena ada event mobil hias di dalam kota. Kakak mengajakku ke macipo ... Malang Center Point, sebuah mall yang agak sepi. Di sana belanja buah, dan duduk-duduk di J.Co Donuts. Sebenarnya ini cheating juga, karena resto ini salah satu yang seharusnya tak kukunjungi. Tapi tak apa demi kebersamaan yang indah. Kami foto-foto lagi dan memikirkan caption yang cocok untuk foto yang akan kami aplot di medsos nanti. Hahaha, bener-bener geje.



Sepulang dari J.Co, kakakku langsung tidur di kamarnya. Aku menemani ponakan yang lebih memilih mainan ponsel. Lama-lama aku juga tidur di sebelahnya. Kami bangun usai ashar, dan lalu makan roti yang kami beli di macipo. Roti dengan topping potongan keju yang besaaarrrr...wowww, ini potensial untuk meningkatkan kolesterol ternyata. Aku cheating lagi ... huhuhu. Wah, sambil nulis ini aku baru ingat kami beli kue-kue warna hitam yang menggiurkan karena berisi cokelat cair. Aku belum sempat makan ... tapi tak apa karena makan cokelat berarti cheating untuk yang ke sekian kali, hedewww.

Sambil makan roti keju dan semangka, kami pilih-pilih lagu untuk dinyanyikan bersama. Dengan gap umur yang agak jauh, ponakan selalu menolak lagu yang ditawarkan, alasannya lagunya too jadul, wkkk, sehingga akhirnya pilihan jatuh pada lagu daerah saja. Judulnya Sioh Mama. Yang liriknya ... "ayam hitam, telurnya putih ... mencari makan ... bla bla bla..."

Setelah puas nyanyi, aku buru-buru mandi untuk ngejar jadwal kereta ke Jogja. Hmm, godaannya sudah usai? Belum, karena kecepetan, jadi kami makan dulu di bakso stasiun. Cheating again yaaa ... hmmm. Cheating sambil lihat-lihat tukang baksonya yang menarik karena kembar. Kesimpulannya: Mas yang bikin minum lebih kurus dari kembarannya yang ngeracik bakso ... wkkk oposeh.

Setelah makan bakso langsung cuzz stasiun dan aku masuk ke peron. Good bye, Malang. Always loving this city. Karena ada setumpuk cinta di sini.







Memulai Olah Raga Lari: 24 Agustus 2016

Setelah enam hari tidak lari, aku memulai lari lagi. Dan kali ini ada hal fatal yang lupa kulakukan, yaitu minum segelas-dua gelas air putih sebelum berlari. Akibatnya apa ... aku kehausan di dua ratus meter pertamaku, hahaha.

Kerongkongan terasa kering dan aku memutuskan untuk berjalan saja, namun memanjangkan jarak tempuh. Oya, aku juga menemukan palang petunjuk bahwa ke arah utara ada sebuah mini market, sejauh satu kilometer. Berarti seandainya aku dapat mencapai mini market tersebut, aku akan berlari atau berjalan sejauh dua kilometer tiap pagi.

Pagi itu aku nggak nyampai di mini market, hanya sampai di palang petunjuk berikutnya bahwa mini market tersebut masih 500 meter di depan, lalu aku balik kanan pulang. Artinya pagi itu aku mencapai jarak tempuh sejauh 1 kilometer pp. Sudah cukup lumayanlah untuk diriku pribadi. Prestasi kita dalam mencapai apa saja, tidak harus dibandingkan dengan orang lain, namun dibandingkan dengan prestasi kita di hari kemarin. Kita dikatakan berprestasi, jika kita di hari ini lebih baik dari hari kemarin. Setujuuuuu???

Suasana pagi saat yang tepat bagiku untuk lari...
(Foto diambil dari koleksi whatsapp, kayaknya kiriman teman, tapi lupa siapa, hehe)

Senin, 22 Agustus 2016

Mengantar Orang Tua Pergi Haji

Akhirnya orangtuaku pergi haji, alhamdulillah.

Perjalanan spiritual mereka tak pernah aku ketahui secara pasti, tapi yang jelas orangtuaku bukanlah orang yang sangat religius. Pada saat aku kecil, mereka memang menyuruhku mengaji dan sholat, tapi tak pernah memaksa, bahkan membiarkan ketika aku mandeg mengaji dan malas-malasan sholat.

Kedua orangtuaku sholat juga tapi bukan merupakan kaum putih yang sholat lima waktu sehari kemudian aktif ke masjid. Ketika aku tumbuh dewasa, aku belajar sendiri mengaji secara otodidak maupun dengan guru. Dan sholatku juga kuperbaiki sendiri walau sampai detik ini aku belum bisa membanggakan diri sebagai ahli sholat.

Dalam doaku selalu kusebut nama kedua orangtuaku agar mereka menerima hidayah. Agar mereka rajin sholat dan mau mempelajari agama Islam secara kaffah. Lalu suatu hari mereka berdua mengalami kecelakaan. Papaku yang lebih parah karena harus menjalani operasi untuk tulang punggung yang patah. Mama hanya retak di punggung tangan, namun cukup membuatnya repot beraktivitas. Ternyata kejadian kecelakaan itu merupakan titik balik kedua orangtuaku. Setelah sembuh, keduanya rajin sholat di awal waktu. Setiap aku mudik, tak lupa ditanya oleh mereka apakah aku sudah sholat atau belum. Alhamdulillah.

Pendaftaran haji sudah diurus kakak perempuanku sejak lama. Dan kemarin 21 Agustus akhirnya mereka bisa berangkat ke tanah suci. Rasa haru menyelimutiku melihat keduanya bersisian duduk di dalam bus yang memberangkatkan mereka ke Surabaya.

Selamat jalan papa mama, opa oma, semoga perjalanan dan kegiatan selama berhaji dapat memberi kenyamanan dan ketenangan. Sehat terus, dan pulang kembali dalam keadaan sehat, selamat, serta mabrur, aamiin.


Memulai Olah Raga Lari: (4) Tanda-tanda Kolesterol Tinggi

Hari ini adalah hari off saya berlari. Jadi saya akan posting segala hal yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan program lari saya. Kali ini saya mau membicarakan tentang pemicu mengapa saya jadi memutuskan untuk berlari. Yap, itu adalah karena kadar kolesterol dalam darah saya yang sudah melewati ambang batas normal.

Kebetulan saya dapat broadcast di grup whatsapp tentang tujuh tanda kolesterol tinggi. Setelah saya cermati ternyata enam dari tujuh tanda tersebut ternyata memang ada di saya. Astaghfirullah...
Berikut saya sarikan ke tujuh tanda-tanda tersebut.

1. Sering kesemutan
    Sering kesemuta merupakan pertanda aliran darah tidak lancar sehingga ada syaraf yang tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup. Sebagian besar penyebab aliran darah tidak lancar adalah kolesterol.

2. Pusing di kepala bagian belakang
    Kolesterol mengakibatkan tersumbatnya pembuluh darah di sekitar otak dan kepala. Apabila dibiarkan dapat berakibat fatal yaitu pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan stroke

3. Pegal di tengkuk/pundak
    Pundak dan tengkuk terasa pegal bisa karena kurang pasokan oksigen dan darah ke area tersebut akibat penumpukan kolesterol.

4. Rasa nyeri pada kaki.
    Kolesterol menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah arteri sehingga aliran darah ke kaki terhambat

5. Mudah mengantuk
    Sering menguap terjadi akibat kurangnya pasokan oksigen ke otak.

6. Warna kuku berubah
    Kuku menebal dan lebih lambat pertumbuhannya akibat tidak mendapat aliran darah yang cukup

7. Kram pada malam hari
    Kram pada kaki, tumit, telapak kaki dan lainnya.

Sumber artikel yang saya resume memang hanya dari broadcast whatsapp, tapi tak apalah. Cukup kita waspada saja terhadap tanda-tanda tersebut. Seperti saya yang kolesterol tinggi ternyata memang mempunyai enam dari tujuh tanda di atas (yang gak ada hanya kuku yang berubah warna). Yuk, mulai hidup sehat. Kalau memang saatnya meninggal, meninggallah dalam keadaan sehat, bukan karena penyakit yang menggerogoti badan, insyaaAllah.

Penampakan kolesterol dalam aliran darah
Gambar dari google


Selasa, 16 Agustus 2016

Memulai Olah Raga Lari: (3) Hari yang Berbeda

Hari ini aku mulai lagi berlari. Tak lama setelah adzan subuh berhenti, aku bersiap-siap. Di luar langit sudah tak segelap dua hari yang lalu saat aku memulai olah raga lariku. Aku pemanasan sekadarnya lalu mulai jalan santai pelan-pelan. Laundry seberang jalan sudah buka dan ada dua ibu-ibu pulang dari masjid sedang berbincang di pinggir jalan. Kedua ibu itu lalu berpisah dan salah satu mendekat padaku lalu menyapa. Ooh, rupanya dia adalah ibu-ibu yang punya warung depan kantor, tempat aku sering membeli snack. Lalu kami ngobrol sekadarnya sampai tiba depan rumahnya dan ia masuk. Aku meneruskan berlari-lari kecil. Ke arah utara.

Ruteku kali ini tetap, kutambah beberapa meter ke depan. Hawa dingin sejuk. Dan gunung merapi nampak samar di hadapan. Kakiku masih terasa pegal, tapi aku terus berlari dan sesekali berjalan pelan. Saat aku kembali turun berbalik ke arah selatan, aku melihat siluet bapak-bapak tua bersarung dengan seekor anjing di hadapanku. Aku berjalan pelan. Perasaanku kurang baik. Nah, benar saja, si anjing akhirnya mendekatiku, walau tanpa menggonggong. Aku jalan pelan berusaha tenang mendengarkan langkah-langkah anjing di belakangku. Tapi lalu si anjing berhenti mengikutiku. Mungkin aku kurang menarik baginya, ya. Belum mandi soalnya, wkkk.

Aku lanjut lari kecil. Beda ya kalau jalan turunan dengan tanjakan. Makanya pas berangkat tadi berat, pas pulang rada ringan. Nah ada yang menyerangku di sini. Yaitu rasa gatal tak terkira dari paha sampai kaki. Ini penyakitku sejak kecil. Kalau lari pagi pasti kaki gatal-gatal. Aku belum tahu kenapa sih. Logikaku ini karena panas tubuh yang bergesekan dengan udara dingin. Jadi semacam alergi dingin, gitu, ya? Entahlah, nanti aku gugling aja penjelasan ilmiahnya.

Oke...sekian jurnalnya. See you tomorrow...

Gambar dari dunialari.com


Senin, 15 Agustus 2016

Memulai Olah Raga Lari: (2) Apa Yang Harus disiapkan

Hari ini adalah hari kedua menjalani keputusan saya untuk mulai berlari. Tapi saya rehat lari. Lhoh. Kok rehat, sih? Waah, niatnya kurang kuat pastiii. Eehhh tenang saudara-saudara, tenang dulu. Niat saya masih sekokoh baja. Saya bahkan mencari web-web yang bisa membantu saya untuk berlari dengan baik. Sampailah saya di situs dunialari.com yang mottonya Portal Lari #1 di Indonesia. Wih, keren, toh?

Dan ada beberapa hal yang saya rangkumkan di sini, dan menjadi alasan juga kenapa saya tidak berlari hari ini. Berikut adalah apa yang harus disiapkan seorang pelari pemula:

1. Tentu saja kita butuh sepatu lari. Sepatu khusus buat lari, ya, biar kaki nggak sakit. Pergilah ke toko olah raga dan bertanya pada pelayan toko, sepatu yang paling pas untuk kita. Jangan sungkan untuk mencoba lari-lari kecil saat mencoba sepatu, ya. Oh ya, kita butuh sepatu yang tidak terlalu ngepas. Agak gede dikit gapapa karena kaki kita akan sedikit mengembang saat berlari. Alhamdulillah untuk poin yang ini nih, kemarin sudah saya praktikin semua deh. Enggak salah saya ke toko OR, haha hihi sama mbak yang jaga, dan dapat bonus diskon serta tali sepatu gratis buat ganti-ganti.

2. Pakaian yang kita kenakan harus berbahan kaus yang menyerap keringat. Untuk ladies, gunakan sports bra ya, supaya aman larinya.

3. Selalu melakukan pemanasan dan pendinginan setiap akan dan sesudah berlari. Ini penting untuk mencegah cidera

4. Untuk pelari pemula, tiap sesi lari tidak lebih dari 30 menit, tiga kali dalam seminggu (nah ini nih, yang membuat saya memutuskan rehat sehari. Jadi dalam sebulan ini saya akan lari dua hari sekali). Istirahat sehari penting agar otot tubuh kita menyesuaikan diri dengan adaptasi. Dari yang tadinya gak pernah dilatih, nanti dia kaget kalau tiba-tiba kita latihan rutin.

5. Untuk kestabilan motivasi berlari, disarankan menulis tiap sesi lari dalam sebuah jurnal yang berisi lama waktu berlari, jarak yang dicapai, perasaan ketika sebelum, sedang dan setelah berlari. Pasang alarm agar kita tidak beralasan untuk telat bangun atau lupa jadwal kita berlari. Gabung dengan grup lari untuk menambah motivasi. Nah, untuk jurnal ini sementara saya nulis-nulis ringan gini aja di blog deh. Kalau pasang alarm, insyaaAllah iya. Selain alarm hape, adzan subuh juga menjadi alarm. Pokoke jadwal lari saya setelah sholat subuh, gitu aja. Sedangkan untuk gabung grup lari, belum ada niat sih, ntar aja kalau jam terbang saya sudah banyak. Nah ini lari masih ngos-ngosan kok mau gabung komunitas lari, malu ah. Browsing-browsing dulu aja dan belajar dalam hening.

Nah, segitu dulu deh jurnal lari hari kedua ini. Oya, btw, hari ini saya memahami kenapa sebagai pelari pemula saya harus rehat. Kedua kaki saya mulai paha ke bawah, pegal-pegal luar biasa. Hmm, tomorrow will be better. Yukk, lariii...

Gambar dari google

Minggu, 14 Agustus 2016

Hari-hari Penting Bulan Agustus

Salah satu point dalam menembus kolom opini adalah menulis sesuatu yang sedang 'in'. Yang sedang 'in' itu bisa kasus yang sedang hangat, atau sesuatu yang diperingati secara tetap tiap tahunnya. Kali ini saya merangkumkan hari-hari penting di bulan Agustus untuk Anda.

1     = Hari ASI Sedunia
5     = Hari Dharma Wanita Nasional
8     = Hari Ulang Tahun ASEAN
9     = Hari Masyarakat Adat (internasional)
10   = Hari Veteran Nasional, Hari Kebangkitan Teknologi Nasional
12   = Hari Remaja (internasional)
14   = Hari Pramuka
17   = Hari Kemerdekaan Indonesia
18   = Hari Konstitusi RI
19   = Hari Departemen Luar Negeri Indonesia
21   = Hari Maritim Nasional

Ada yang mau menambah?

Memulai Olah Raga Lari: (1) Niat yang Kuat

Hari ini adalah pertama kalinya aku lari pagi lagi, setelah entah berapa tahun aku tidak berlari. Mengapa berlari? Tak lain adalah karena alasan kesehatan saja. Dua minggu lalu aku periksa darah dan menemukan bahwa kadar kolesterol totalku 255, lumayan jauh dari ambang batas normal: 200. Seperti biasa aku menolak minum obat penurun kolesterol, tapi mulai berpikir apa yang harus kulakukan untuk menurunkan si koles yang nakal itu.

Yang kupikirkan tentu saja diet mengurangi gorengan, lemak, santan dan berbagai penganan enak lainnya. Memperbanyak asupan air putih dan tentunya olah raga. Sebenarnya olah raga senam ringan sudah kulakukan dua mingguan ini, tapi aku mau lebih serius sehingga aku memutuskan untuk menambah olah tubuhku dengan berlari.

Berlari bukan sesuatu yang aneh buat aku. Saat aku masih kanak-kanak dan tinggal di Semarang, kedua orangtuaku sering lari pagi di subuh hari. Dan anak-anaknya dibangunkan untuk ikut berlari. Memang aku tidak rutin ikut, tapi kenangan saat lari pagi di masa kecil dulu masih membekas kuat di otakku. Kami pernah lari pagi diikuti dua anjing kami yang setia yaitu Jou dan Grey. Mereka ikut lari-lari lalu berputar-putar di sela-sela kaki hingga salah satu atau salah dua di antara kami jatuh terguling. Ramai dan menyenangkan. Ingatanku juga menyimpan kenangan saat aku malas ikut lari, lalu kedua orangtuaku lari berdua - atau bertiga dengan kakak. Mereka singgah lagi ke rumah mengajakku ikut dan memberitahu bahwa sahabatku, Evie juga sedang lari pagi bersama ayahnya. Langsung aku ikut lari-lari dan bertemu Evie. Hanya berpapasan dan saling tersenyum saja, hahaha ... dan itu sudah sangat menyenangkan.

Aku juga mulai agak rajin lari pagi saat awal tinggal di Makassar, saat aku sudah bekerja. Aku lari sendiri, kadang ditemani sahabatku, Enik. Kami lari dari gang rumah di Km.16,5 sampai ke kompleks ruko ke arah utara, kurang lebih satu kilometer saja. Jadi dua km bolak-balik. Oh ya, bersama Enik dan Susi (teman kantor juga) kami pernah iseng ikut lomba lari 5K di Makassar. Kami bertiga adalah peserta yang paling lambat sampai. Itupun ditambah cheating naik angkot, huahaha.Setelah menikah, hanya kadang-kadang saja aku lari pagi. Kadang-kadang yang amat jarang. Tapi bukannya tidak pernah, lho. Yah, cuma itu saja pengalamanku dalam berlari. Tentu saja ditambah lari wajib tiap olah raga saat masa-masa sekolah dan prajabatan PNS. Tau nggak, apa yang selalu sama setiap aku lari bareng suatu rombongan? Yang tak pernah berbeda adalah, aku selalu ada di posisi paling buncit alias belakang (hadeww gitu kok bangga).

Nah, dengan rekam jejak yang demikian menyedihkan, apakah niatku berlari kali ini akan sirna bersama lemahnya niat? Aih, jangan begitu dong. Niatku kali ini insyaaAllah kuat. Kemarin aku beli training dan kaos bahkan aku beli sepatu khusus lari. Aku menghabiskan uang sekitar 4 milyar untuk ini (lebay dotkom) dan tidak mau investasi 4 milyar itu tak berbuah hasil. Aku ingin hasil angka koles di bawah 200 dan tubuh yang segar serta fit. Plus wajah berseri-seri dan tampak sepuluh tahun lebih muda (abaikan kalimat terakhir, wuakakakk). Oh ya, selain uang yang sudah kuhamburkan, sebenarnya ada yang lebih berarti untuk menguatkan niat suciku berolahraga ini. Apakah itu? Tentu saja tiga buah hatiku yang soleh dan solehah. Permataku yang kuingin selalu bersinar. Aku ingin sehat untuk selalu dapat mendampingi mereka (mulai mellow). Semoga niatku ini kuat sekuat-kuatnya niat, aamiin (ikat tali di kepala).

Sekian dulu ya pembaca tercinta, besok aku akan kembali dengan jurnal lariku. Doakan aku yaaa.

Tiga buah hatiku yang manis semanis manggis

Sabtu, 13 Agustus 2016

Sahabatku, Inspirasiku

                Pertama kali aku mengenalnya kurang lebih dua tahun yang lalu, dalam sebuah acara kopdar Ibu-ibu Doyan Nulis Jogjakarta (IIDN Jogja). Dia masih baru. Mengenalkan dirinya dengan lembut dan bercerita tentang sebuah ide tulisan. Sebuah ide yang sangat cemerlang, dan pasti laku dijual.
                Seiring bersamanya waktu, ternyata takdir mengikat kami dalam sebuah pertemanan yang lebih erat. Aku mulai mengenalnya makin dekat. Memahami passionnya dalam kegiatan-kegiatan sosial, dan mengagumi pengetahuannya yang luar biasa tentang Jepang. Dia mengenalkan aku dan beberapa teman pada Luna dan Julio, dua orang balita berkebutuhan khusus, yang mengetuk hati kami hingga sedalam-dalamnya. Menyadarkan pada kami betapa beruntungnya kami hidup dengan tubuh yang sehat dan dikaruniai anak-anak yang sehat. Dia mengajarkan dan mengenalkan budaya Jepang dengan luwes, membimbing kami memakai yukata (pakaian tradisional Jepang) dan menuntun kami tahap-tahap pembuatan makanan Jepang. Dia – memperkaya ruhani teman-temannya dengan caranya yang tak biasa. Memberi arti lebih dalam, pada makna syukur dan makna bahagia.
                Waktu terus berjalan namun dia belum menulis. Padahal seluruh kata-katanya adalah mutiara. Ilmu parenting dan surviving in life, sudah dia punya. Apa kiranya yang menahan gerak jemarinya?
                Kemudian aku mendengar berita itu. Memahami penghalang besar dalam langkahnya. Memahami mengapa seribu mutiara indah belum juga tertuang menjadi bait-bait pencerah untuk sesama. Aku memeluk tubuhnya, menggenggam jemarinya dan menangis bersamanya. Tidak. Salah. Aku yang menangis. Namun dia sudah melewati badai hidupnya dengan sepuasnya tangis. Kali itu aku yang menangis. Dia hanya tersenyum, menuturkan sepenggal cerita hidupnya.
                Titik itu akan kuingat. Jika aku mengalami sebuah badai (semoga tidak), aku akan mengingat bagaimana dia mengatasi semuanya. Satu lagi pelajaran hidup yang memperkaya batinku, darinya.
                Lalu waktu kembali berjalan. Matahari bersinar cerah. Hidupnya sudah terang. Dan dia menulis. Yaa, sahabatku akhirnya menulis. Mutiara itu sudah dituangkan, dalam ribuan kata penyentuh jiwa. Dia menulis, aku menangis. Haru. Bangga berteman dengannya.
                Dia adalah, Mbak Dede Budiarti (Mahde). Dia inspirasiku untuk memaknai dan mensyukuri arti kehidupan.

                Mahde, aku padamu. Denganmu aku ingin bersahabat, sehidup semati. Love you always. #IIDNInspirasi 

Ini aku dan Mahde


Rabu, 20 Juli 2016

Puisi

Untuk ke sekian kalinya dalam umurku yang tak lagi muda, aku mencoba memilah-milah kembali isi hati, yang baru saja dilanda embusan angin masa silam
Angin yang sejuk namun dingin membekukan, kadang panas menyakitkan
Kenangan yang merajam-rajam hati memutuskan untuk tenggelam atau segera beranjak dan pergi
Kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan, namun terlalu kejam untuk direnggut dan dihidupkan kembali
Jangan...
Biar saja...
Biar terkubur semua
Aku dan kamu tak lagi belia, dan cinta kita tak lagi sama, andai kita paksakan pun tak mungkin bahagia
Biarlah semua kenangan kembali dalam album masa
Suatu saat mungkin kita kembali menengok ke belakang, namun dengan pemaknaan yang berbeda
Relakan...
Ikhlaskan...

Selasa, 19 Juli 2016

Aku Ingin (Sapardi Djoko Damono) - Belajar Memahami Puisi

Saya sedang belajar tentang puisi. Dan ini puisi pertama yang saya pelajari, karya Sapardi Djoko Damono

Pak SDD dan bukunya

Sapardi Djoko Damono adalah maestro puisi Indonesia. Lahir 20 Maret 1940, di Surakarta. Masa sekolahnya dihabiskan di Surakarta, kemudian ia menjalani studi Sastra di Universitas Gadjah Mada. Sejak 1974 beliau mengajar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Sejak masa sekolahnya, beliau sudah banyak mengirim karya ke berbagai majalah. Pernah menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis" dan "Kalam".

Sajak-sajaknya sederhana dan banyak diilhami oleh unsur alam seperti hujan, bunga, daun.

Berikut salah satu sajaknya yang populer:

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Komentar:
Puisi yang sangat indah dan sarat makna. Saya mencoba memahami puisi ini dengan browsing internet dan menemukan bahwa semua orang bebas memaknai sebuah puisi. Banyak sekali yang sudah mencoba menganalisis puisi ini dari sudut pandangnya sendiri-sendiri. Sebagian besar memaknai bahwa puisi ini adalah tentang cinta yang tak menuntut balasan, bahkan rela berkorban walau yang dicintai menyakitinya hingga hancur. Apakah demikian juga yang dimaksud Sapardi saat membuat puisi ini? Entahlah...semoga nanti saya mendapatkan info terpercaya kutipan dari si penyair sendiri.

Saya sendiri memaknai bahwa kata 'sederhana', ternyata bisa demikian 'rumit'.

Hehe, apakah mengecewakan pemaknaan saya? Harap maklum, walau waktu SD saya suka menulis puisi, baru sekaranglah saya tertarik untuk belajar puisi, karena putri saya yang kelas 6 SD mulai tertarik menulis puisi dan pernah menang lomba puisi antar kelas di sekolahnya. Maksud saya, untuk menyupport si sulung, saya juga harus paham benar tentang puisi. Belajarnya bagaimana, ya dari mempelajari puisi-puisi karya penyair Indonesia maupun luar.

Keprihatinan
Ada satu keprihatinan saya ketika mempelajari puisi karya Pak Sapardi ini. Mengapa? Yaitu banyaknya orang salah kaprah dan menganggap bahwa 'Aku Ingin' adalah karya Kahlil Gibran. Wah, kok bisa gitu, ya? Di mana kesalahan bermula? Entahlah. Yang jelas, saya harap bila Anda membaca postingan saya ini dan menemukan postingan salah kaprah, Anda bisa mengoreksi kesalahan tersebut.

Jumat, 01 Juli 2016

Puisi : Antara aku, kau dan dia

Jika aku adalah penderita batuk parah, maka kau adalah semangkuk es krim. 
Manis, lembut, dingin dan menyegarkan
Aku tau menikmatimu akan sangat mengurangi dahagaku
Dan menerbitkan seluruh gairahku
Namun itu hanya sesaat
Berikutnya serangan batuk parah akan menyerangku
Seluruh tubuhku akan menggigil pilu
Lalu kaku
Dan 'aku' akan melayang membawa dosa tak terampunkan

Jika aku adalah penderita batuk parah, maka dia adalah permen jahe atau segelas air lemon hangat
Kehadirannya menenteramkan seluruh jiwaku
Menyembuhkan batukku secara perlahan
Menerbitkan senyumku
Mencerahkan hari-hariku
Lalu jika aku sudah sembuh, mungkin sesekali aku juga bisa menikmati es krim
Tapi air lemon hangat masih menjadi pilihan utamaku

Senin, 27 Juni 2016

Hidangan ala Jawa dan ala Bugis beraroma PUASA dan LEBARAN - Day 22 Fasting

Hmmm, setelah kemarin mengulik tentang kue lebaran yang biasa saya makan, sekarang saya akan menampilkan beberapa masakan yang biasa saya makan di rumah orangtua saat lebaran. Dan hidangan yang pernah saya makan saat buka puasa di Bone, di rumah kakak ipar. Tapi no resep yaaa. Here we go....

HIDANGAN ALA JAWA


Opor Ayam Gurih


Sambel Goreng Ati


Lontong atau Ketupat


Brongkos Pedes


Telur Asin dari Brebes


Es Jelly


Krupuk Rambak


Satu piring lengkap sajian lebaran yang menggiurkan

HIDANGAN ALA BUGIS


Ayam Nasulikku' (ayam masak lengkuas)


Ayam bumbu merah


Sokko'/Songkolo' (ketan)


Burassa (sejenis lontong tapi ada rasa gurih santan yang khas)


Es kelapa muda


Semangkuk es kelapa muda yang dicampur biji selasih dan nata de coco, nikmat menggoda.

Nah, itu hidangan yang biasa saya nikmati di bulan puasa (pas buka) dan juga lebaran. Bagaimana, enak-enak semua, kan? Yuk, tulis juga hidangan buka puasa atau lebaranmu!

Minggu, 26 Juni 2016

Aroma Nastar - Day 21 Fasting

Tak terasa sudah hari ke-21, dan target-target Ramadhanku belum lagi tercapai. Tadarus masih jalan terus walau belum bisa tancap 2 juz perhari. Ngafalin surat baru sampai separuh. Tahajud-dhuha, sudah lumayan rutin walau tak setiap saat juga. Tapi better dibanding sebelum Ramadhan. Semoga akhir Ramadhan, target khatamku tercapai, aamiin...

Hari ke-21 pasti ibu-ibu sudah banyak yang mulai bikin-bikin kue lebaran. Hmm, di era yang serba praktis ini tentu ada yang memanfaatkan kemudahan dengan langsung membeli di toko, ya? Tapi kalau kue bikin sendiri, tentu kesannya akan jauh berbeda. Demikian saya rasakan saat kecil, karena Mama saya selalu bikin kue lebaran dengan penuh suka cita.

Dan di siang yang agak panas, aroma nastar lamat-lamat memenuhi hidungku. Rupanya bu kos dan putrinya sedang tandem bikin nastar. Hmm...dan saat aku sempat ngicip pas buka, nastarnya memang lembut, dengan bubuk susu yang agak kebanyakan, jadi gurih susunya terasa. Isi nastarnya tak terlalu masam karena juga dibuat sendiri dari campuran nanas dan tomat. Nah, sentuhan personal macam inilah yang tak akan ditemukan di stoples-stoples kue bikinan orang yang dijual di toko. Tak ada sentuhan kehangatan karena produsennya membuat kue dengan kejaran target dan hitungan-hitungan keuntungan. Nggak boleh rugi antara biaya bahan dan hasil penjualan, begitu bukan? Kue bikinan sendiri nggak pernah memperhitungkan itu semua. Kue bikinan sendiri dibuat dengan tambahan bumbu kasih sayang dan cinta.

Kue bikinan sendiri juga full of history, misalnya saya selalu ingat kue yang saya bikin bersama Mama tahun 2003, saat saya hamil anak pertama. Dalam kondisi hamil besar, saya membantu Mama saya ketika kemudian Mama saya menyadari bahwa kaki saya bengkak (mungkin kecapaian). Mama jadi agak panik (walau tak beliau tampakkan) dan segera menyuruh saya beristirahat.

Hmm, saya jadi rindu kue bikinan Mama saya. Di bawah ini ada beberapa kue kering andalan Mama saya.


Lidah Kucing Rainbow


Nastar dengan tangkai cengkih


Kaastengels yang juara dengan rasa keju yummy

Hmm ... kamu? Mana kue lebaranmu???

Masih Demam Cak Nun – Day 20 Fasting

Yaa, artikel kali ini masih bicara tentang Cak Nun yang mendadak saya kagumi. Kemarin siang saya sempat singgah Toga Mas. Begitu masuk lima langkah, menengok ke kiri, berjajar karya Cak Nun di rak tinggi (sepertinya dicetak ulang). Jelas saya singgah lihat-lihat dong. Mungkin kalau paginya saya nggak nonton kyai kanjeng, saya hanya akan melewatinya saja tanpa ada keinginan mendekat. Dan apakah saya beli bukunya? Ooh, tentu. Saya ambil yang paling tipis. Judulnya: “Kagum Kepada Orang Indonesia”. Tapi saya belum baca, jadi tak hendak bercerita tentang isi buku itu sekarang.



Malamnya saya traweh di masjid kampung. Seolah kompak dengan aura-aura Cak Nun dalam batas kesadaran saya, kultum yang disampaikan oleh sang imam ternyata nyambung dengan bahasan Cak Nun tentang doa. Imam menjelaskan secara singkat keutamaan berdoa, terutama berdoa untuk orang lain, secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang yang kita doakan itu. Ketika kita berdoa untuk orang lain, malaikat akan mengaminkan dan menjawab doa kita. Misalnya kita berdoa:

“Ya, Allah berikanlah kekuatan untuk temanku si Fulanah dalam menghadapi segala cobaan dalam hidupnya, aamiin.”

Malaikat menjawab:

“Aamiin. Semoga demikian juga denganmu, yaa Indah.”

Nah, sangat istimewa bukan? Kita ‘hanya’ mendoakan teman kita, namun balasannya kita didoakan oleh malaikat. Oleh sebab itu janganlah berdoa untuk kejelekan orang lain, karena hanya akan memberikan keburukan kepada kita.

Dan pagi ini, walau sahurnya agak telat, saya mencari channel AdiTV untuk mencari Cak Nun. Beneran, acaranya sudah hampir berakhir. Cak Nun sedang mengakhiri jawaban pada pertanyaan terakhir dari audience. Tak apa walau cuma sepenggal, saya sampaikan di sini. Cak Nun menegaskan lagi pentingnya menekankan pada anak-anak kita kewajiban  MENGHINDARI MO LIMO : Main (judi), Maling (mencuri), Madat (narkoba dan sejenisnya), Minum (minuman yang memabukkan), Madon (main perempuan – berzinah). Bahkan Cak Nun bilang, sejak anaknya sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah, hal itu sudah ia tekankan sebagai NO WAY … tak ada toleransi. Tak mengapa jika dalam perjalanan hidupnya anak coba-coba, misalnya main gaple suka-sukaan sama teman lalu pake duit dua ribuan. Tapi fakta bahwa main gaple itu JUDI dan HARAM hukumnya harus sudah tertanam kuat di benak anak. Jadi dia main gaple tanpa ada keinginan untuk mengulangi perbuatannya bahkan potensi yang muncul adalah rasa bersalah dan kemauan bertobat.

“Anak saya biar masih kecil sudah tahu MO LIMO. Sudah tahu bahwa lima hal itu harus dihindari.”

Hmmm, catat dengan mode bold italic dalam hati saya. Ini PR yang harus saya ajarkan pada anak-anak kalau saya kembali ke Makassar kelak.


Nah, itu saja, catatan hari ini. 

Jumat, 24 Juni 2016

Emha Ainun Najib di Sahurku – Day 19 Fasting

Sahur pagi ini sangat istimewa. Semua bermula ketika saya bawa piring makan saya di depan televisi dan melihat ibu kos sedang khusyuk menonton acara pengajian Kyai Kanjeng. Pengajian malam-malam Cak Nun di sudut Jogja yang ditayangkan ulang saat sahur di AdiTV. Bu Kos masih ngadepi TV (duduk dekat banget dengan televisi), ketika kusapa,

“Wah, ibu suka nonton pengajiannya Cak Nun?” tanyaku heran.

Ibu tersenyum.

“Ya, baru ini kok, Mbak. Ini yang nikah sama Novia Kolopaking itu kan, Mbak? Kok sudah tua, ya?”

Hahaha, ternyata bu kos lagi kepo toh.

“Iyalah, Bu. Dulu nikah sama Novia juga kan sudah tua, sudah duda,” sahutku.

Wah, pagi-pagi jadi nggibahin Cak Nun, nih. Astaghfirullah. Maaf ya, Cak Nun.

Akhirnya bu kos duduk menjauh, tapi tidak mengganti channel televisi. Tetap mantep menonton sambil mencari-cari siapa tahu Mbak Novia nongol. Tapi rupanya pagi itu Mbak Novia nggak ikut syuting. Jadilah saya dan bu kos mengikuti kajian Kyai Kanjeng dengan khusyuk.


Ini lho, Bu Kos ... Mbak Novia masih semaniz yang dulu

Saya sendiri belum pernah menonton acara Cak Nun ini. Tahu sih kalau stasiun televisi lokal Jogja itu selalu menayangkan Kyai Kanjeng. Tapi entahlah saya selalu kurang tergerak untuk mencermatinya. Saya lebih memilih menonton tausiyah Mamah Dedeh, Ustd Maulana atau AA Gym dan sesekali Ustd YM.

Kali ini saya ‘terpaksa’ menonton Cak Nun dan Masya Allah … ternyata sungguh saya tersentuh oleh gaya beliau. Saat sedang bertausiyah, saya masih kurang konsen karena lebih konsen berperang melawan sayap ayam bumbu opor di piring saya, tapi saat tanya jawab, saya terpaku menatap monitor televisi. Terpesona, manggut-manggut, lalu tertawa-tawa penuh kagum melihat gaya Cak Nun menjawab pertanyaan. Mungkin cara saya menuliskannya berikut ini tak akan bisa menggambarkan hebohnya pengajian Cak Nun, tapi baiklah saya coba berbagi di sini, ya.


Gaya Cak Nun yang ekspresif

Penanya pertama seorang anak muda santun yang mengeluh bahwa ia ingin mengajari anak-anak di sekitar tempat tinggalnya mengaji. Tapi mengapa anak-anak ini kurang sopan-santun. Kalau ia memberi hukuman sedikit saja juga sudah heboh lapor kepada orangtua. Bagaimana sebagai guru ia harus bersikap?

Penanya kedua seorang bapak berusia 40-an tahun. Ia mengaku selama ini belum tertarik belajar agama secara benar. Baru sekaranglah ia tertarik untuk belajar pada seorang guru/ulama. Tapi ia bingung mau belajar pada yang mana, karena menurutnya ulama-ulama itu kok semua pada bertolak belakang. Yang satu bilang A, yang lain bilang B. Padahal menurut si bapak, di akhirat nanti kita kan dikumpulkan bersama guru-guru kita. Nah, kalau kita pilih guru yang salah, kita masuk neraka, dong. Kalau ikut ulama-ulama itu sama-sama masuk neraka, mending tidak usah belajar agama saja. Atau bagaimana, Cak Nun? (pertanyaan ini menurutku unik tenan dan rada menggelikan, belajar agama wae bingunge eram, lha mbok yo teka sak ithik, ngafalke surat-surat sik wae misale, yo? Lho kok saya yang komen ya? Pake Javanese pulak … wkkk. Lanjut…).

Penanya ketiga seorang mbak-mbak berbaju pink yang seseg atinya. Kelihatan bahwa ia sudah memendam pertanyaan ini sebagai kegundahan hatinya sejak lama. Begini pertanyaannya:

“Saya itu resah. Di keluarga besar saya, ada pemahaman bahwa orang yang sudah meninggal, hanya ada tiga amal jariyah yang tak akan putus pahalanya. Satu ilmu yang bermanfaat, sodakoh jariyah dan anak soleh yang mendoakan. Pakde saya memahami hal tersebut dan melarang saya ke pemakaman. Padahal saya ingin mendoakan kakak saya, kakek saya dan keluarga saya yang sudah meninggal. Kata Pakde doa saya tidak akan nyampe. Ora bakal Kabul! Bagaimana Cak Nun? Apakah kalau kakak saya belum punya anak, belum sempat beramal jariyah dan belum sempat menyebarkan ilmu, lalu saya tidak dapat mendoakannya? (si mbak sudah mingsek-mingsek menahan perasaannya … dan saat saya menuliskan kalimat ini, saya juga jadi baper dan menangis terisak-isak). Bagaimana cara saya mengatasi masalah saya ini?

Cukup tiga penanya, Cak Nun dengan sangat kharismatik mulai menjawab pertanyaan:

“Baiklah, saya jawab langsung urut dari pertanyaan mbaknya, karena ini perlu dijawab cepat supaya tenang hatinya. Orang yang meninggal, terputus amal kebajikannya, kecuali tiga hal. Ilmu yang bermanfaat, sodakoh jariyah dan anak yang soleh. Maksudnya, orang meninggal itu sudah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Sudah nggak bisa sholat, nggak bisa ngaji, nggak bisa ke pasar. Sedangkan soal doa, itu masalah yang berbeda. Lha wong kamu mendoakan saya saja bisa (Cak Nun mengutip ayat tentang bagaimana Allah menyuruh kita untuk saling mendoakan pada kaum muslimin dan muslimat). Apa kita hanya bisa mendoakan bapak kita saja atau ibu kita saja? Tidak. Dan orang yang suka mengklaim bahwa doa itu Kabul atau nggak Kabul itu sama dengan FIR’AUN! Kabul atau nggak Kabul doa kita itu terserah ALLAH! Kemudian masalah ziarah kubur, nggak papa, silakan kamu ziarah kubur. Pakdemu itu berarti menganggap bahwa orang meninggal itu sudah tidak ada. Mereka itu ada, tapi berada di dimensi yang lain dengan kita. Coba saya tanya (Cak Nun menatap audience). Bung Karno itu ada atau tidak? Hadirin ragu-ragu menjawab (Cak Nun jadi nggak sabar). Sekarang saya tanya: Nabi Muhammad itu ada atau tidak!! Baru dehh pada koor menjawab ADAAAA. Nah … ADA! Ngapain kita susah-susah ALLAHUMMA SALLI ALAA MUHAMMAD kalau Nabi itu nggak ada. Orang-orang yang sudah meninggal itu semua masih ada. Maka kalau di kuburan biasa Nabi memberi salam “Assalamualaikum yaa ahli kubuur – assalamualaikum (Cak Nun mencontohkan dengan menunduk-nunduk sambil mengangkat tangan, lalu cepat tegap kembali), kalian kira Rasulullah itu gila, sampai seperti itu?”
Mbak, nanti kalau kamu pulang, bilang sama pakdemu, “Pakde saya doain masuk neraka.” Terus kalau pakdemu marah … jawab saja. Jangan marah pakde … doaku kuwi ora bakal KABUL wong kowe duduk wong tuoku, wong cuma PAKDE (di sini saya terbahak-bahak, apalagi bahasa tubuh Cak Nun sangat kocak).
Nah, sudah paham, Mbak? Kamu ziarah saja nggak apa-apa. Doakan kakakmu. Adapun Pakdemu, kalau nggak kepepet nggak usah kamu lawan. Tetap santun. Kalau ngeyel ya tadi itu, kamu doakan saja dia masuk neraka.
Si Mbak terlihat lebih tenang. Cak Nun sempat komen: Baru kali ini saya dapat anugerah bisa melihat orang menangis sambil tertawa. (Hahaha, memang jawaban Cak Nun sangat kocak tapi sekaligus sangat mengena. Saya bisa memahami perasaan Mbak itu pasti plooooong hatinya).

Jawaban untuk pertanyaan kedua tak kalah lucu tapi juga masuuuuk banget.

Dapat hadist darimana itu kalau di akhirat kita akan berbaris di belakang guru masing-masing? Lha wong guru di dunia ini sangat banyak. Ada guru SD, SMP, SMA, belum guru-guru yang lain. Lha kamu mau baris di belakang yang mana? Lha jadinya sangat banyak barisan di akhirat itu. (Saya ngikik-ngikik). Di akhirat nanti itu tidak ada NU, tidak ada Muhammadiyah, tidak ada LDII, semua satu umat di bawah Rasulullah. Kalau mau belajar Islam, belajar dengan banyak guru lebih baik (Detilnya saya nggak bisa menuliskan, intinya jawaban Cak Nun seperti itu. Jawaban aslinya lebih lucuuu, saya banyak tertawa jadi kadang missed nyemaknya, hehehe).

Penanya ketiga dinasihati oleh Cak Nun bahwa kalau ingin mengajari ngaji ya mengajari ngaji saja. Tapi kalau ingin anak-anak santun, yang diajari pertama adalah TAUHID, dan kedua AKHLAKUL KARIMAH atau akhlak yang baik.
Tauhid artinya anak harus paham akan keesaan Allah. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Akhlakul karimah, paling gampang adalah HINDARI MO LIMO, yaitu: Main (judi), Maling (mencuri), Madat (narkoba dan sejenisnya), Minum (minuman yang memabukkan), Madon (main perempuan – berzinah).

Demikian pencerahan yang  saya dapatkan dari Cak Nun di sahur pagi ini. Cak Nun adalah seseorang yang sangat memBUMI sekaligus meLANGIT pada saat yang bersamaan. Itu kesan saya dalam perjumpaan kali ini. Perjumpaan yang lebih lama daripada sebelumnya yang hanya sekilas-sekilas saja (Maksud saya semua perjumpaan itu melalui televisi lho ya, hehe).

Ternyata di masyarakat umum masih ada interpretasi-interpretasi agama yang sangat menyimpang. Orang-orang seperti Cak Nun ini sangat bagus, dapat menjangkau sampai relung hati orang-orang di pelosok-pelosok negeri. Hati saya hari ini biru oleh tausiyah Cak Nun. Hati Anda yang membaca artikel saya ini gimana? Biru juga, apa merah? Hehe, terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.





Rabu, 22 Juni 2016

Cinta Anak Laki-laki kepada Ibunya – Day 18 Fasting

Seorang laki-laki harus menomorsatukan cinta dan patuh kepada ibunya, sedangkan seorang perempuan harus menomorsatukan cinta dan patuh pada suaminya setelah ia menikah (sebelum menikah tentunya pada orangtua). Demikian Islam mengajarkan, walaupun dalam praktiknya mungkin banyak tidak sesuai dengan teori.

Seorang lelaki kadang terlalui mencintai istrinya hingga menafikan ibunya. Seorang perempuan demikian tunduk pada orangtua hingga mengabaikan suaminya.

Seharusnya pakem di atas tidak mengakibatkan seseorang itu menjadi berat sebelah. Karena kitapun dianjurkan untuk berlaku adil.

Seorang ibupun harus mengerti sebatas mana ia harus mencintai anak lelakinya. Tentu ia mencintai anaknya sepanjang masa, namun ia harus sadar sang anak membutuhkan cinta yang berbeda dari seorang perempuan seusia. Ibu pun harus pandai-pandai berbagi dengan menantu perempuan. Tak usah menganggap menantu sebagai saingan, anggap menantu sebagai karunia Allah yang akan membuat hidup anak lelakimu semakin indah dan nyaman.

Seorang anak perempuan pun, jika telah menjadi seorang istri, harus dapat memahami kedudukan suaminya dalam menyambung silaturahim dengan sang ibu. Tak perlu cemburu atau iri, bahkan harus bangga jika suamimu sangat mencintai ibunya. Dukunglah suami dengan ikut menyayangi mertuamu seperti engkau menyayangi orangtuamu. Kalau engkau sayang ibu suamimu, tentu akan bertambah-tambah sayangnya suamimu padamu. Dan kelak engkau akan mendapat balasan cinta yang abadi dari anak lelaki yang kaulahirkan.

Donna Harun dan menantunya ... kompak yaaa

Seorang anak lelaki yang sudah menjadi suami, harus pandai-pandai bersikap. Cintamu pada bunda, jangan membuat istrimu merasa tersisih, demikian sebaliknya. Senyumlah dengan senyum yang sama, bercanda dan berkomunikasi. Ucapkan kata-kata yang baik. Cintamu pada bunda, adalah mutlak. Cintamu pada istrimu harus kau bangun dengan kesabaran karena mungkin ia tak selalu sempurna baik di matamu maupun di mata ibumu. Ia berasal dari keluarga yang berbeda habit dan budaya serta harus meninggalkan orangtuanya demi kamu. Sudah selayaknya engkau baik kepadanya, dan mengusahakan agar istrimu merasa nyaman di rumahmu, dan merasa nyaman berinteraksi dengan ibumu.



Hmmm, semua yang saya tulis di atas itu sebenarnya hanya prolog dari apa yang akan saya ceritakan. Prolog e kok jadi panjang gitu, ya sudahlah. Nggak apa-apa.

Saya ingin bercerita tentang Mas Adjie, anak ibu kos. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan terdahulu, anak ibu kos yang kedua kerja di Jakarta. Ia kerja di sebuah rumah produksi periklanan. Jam kerjanya gila-gilaan. Kalau ada job iklan, bisa dirampungkan dari pagi ke pagi berikutnya. Bisa dibayangkan sibuknya Mas Adjie ini kan?

Namun di balik kesibukannya mencari rupiah di belantara Jakarta, ia tak pernah melewatkan sehari pun dalam hidupnya untuk menghubungi ibunya via telepon. Bahkan bisa sampai sehari tiga kali seperti minum obat! Masya Allah.

Awalnya saya hanya manggut-manggut saja waktu bapak kos cerita tentang Mas Adjie.

“Adjie itu sayang banget sama istri saya. Tiap hari telepon ibunya.”

Kemudian saya mulai sering memergoki ibu berbincang dengan putra bungsunya itu via telepon. Dalam percakapan itu, ibu bercerita tentang kegiatannya sehari-hari. Sempat pula saya dengar curhat tentang suatu persoalan dengan suara penuh emosi. Lain waktu saya dengar ibu menanggapi cerita bungsunya tentang job yang sedang dikerjakan. Akhirnya saya juga berkesempatan berbincang langsung dengan ibu tentang bungsu kesayangan ini.

“Adjie itu paling sayang sama saya. Dia paling marah kalau ada yang jahat sama saya. Dia paling nggak mau lihat saya nangis. Tiap hari selalu telepon saya, walau hanya bertanya ibu lagi ngapain, ibu sehat nggak, ibu masak apa. Kalau dia sedang di rumah, saya senang, Mbak. Rajiin dia. Bantuin saya masak (sebelum kerja di PH anak ibu kos ini sempat kerja di dapur hotel dan juga staf di acara kuliner di salah satu  stasiun televisi swasta). Dapur selalu bersih karena dia masak lebih rapi dari saya. Kerjanya juga lebih cekatan.”

Dalam bayangan saya langsung ada visualisasi ibu dan anak lelaki tandem masak untuk dijual di warung (bu kos saya kan punya warung makan). Masak berdua sambil sesekali bercanda dan tertawa hangat. Ooh … so sweet yaaa…

Bu kos melanjutkan ceritanya:

“Kalau pulang ke sini dia tuh nggak pernah bilang-bilang dulu, Mbak. Tapi begitu sampai, mulai dari pintu depan sudah teriak-teriak panggil saya… Ibukkkk…Ibukkuuuu yang kusayang… Lalu dipeluknya saya saat sudah ketemu.”

Bu kos bercerita dengan senyum kebanggaan dan tentu dengan cinta dan rasa kangennya pada sang putra.

“Mas Adjie sudah punya calon istri belum, Bu?” tanya saya.

“Sudah. Perawat di Jakarta juga. Sudah pernah ke sini tiga kali. Dulu sebelum kenal sama pacarnya ini, saya sempat bilang sama Adjie. Kalau cari istri, carilah perawat. Pasti dia telaten menjaga kesehatanmu dan keluargamu. Di samping itu seorang perawat akan selalu dibutuhkan di manapun. Banyak tempat kerja bangkrut, tapi rumah sakit nggak akan pernah bangkrut.”

Hmmm, lucu juga pandangan bu kos ini, ya. Tapi jelas ada benarnya. Bagus, bagus. Ini yang namanya realistis.

“Sejak itu, Mbak. Tiap dekat sama perempuan, pasti selalu perawat.”

Hmmm, so sweet. Apa hanya kebetulan, atau ia memang mencari perawat juga dalam rangka patuh pada perintah sang bunda, ya? Saya langsung bervisualisasi seorang lelaki bertubuh tinggi besar (seperti deskripsi dari bu kos), pada jam-jam kosongnya nongkrong bukan di kafe tapi di depan rumah sakit sambil mengamati perawat cewek yang lewat. Terus kalau ada yang menarik perhatian, langsung mendekat dan ngajak kenalan. Hahaha… absurd dah gue.

Hmmm, gimana menurut kalian? So sweet banget kan cinta Mas Adjie pada ibunya? Cinta Mas Adjie ini juga sempat menampar-nampar kesadaran saya. Heiii bukk, berapa kali dalam sebulan kau telepon orangtuamu? Pulsa jangan diirit-irit …. Nanti menyesal di kemudian hari, loh. Heiii bukkk, berapa kali dalam seminggu telepon suamimu (lagi LDR kan, ceritanya). Yah, saya terpaksa mengangguk pilu. Dalam agenda pengiritan saya, saya memilih mengirim whatsapp kepada suami dan ortu tercinta. Doeeeeng…. Apaaa? Dah gak usah lebay deh…sesekali juga saya telepon kok. Hiks.


Demikian cerita saya hari ini. Cuss, habis baca segera telepon ya? Bisa ke ibu, ayah, atau suami/istrimu. Kalau posisimu belum punya suami/istri dan sudah nggak punya ortu, telepon aja seseorang yang paling kau sayang dalam hidupmu. Dan bilang bahwa kau sangat menyayanginya. Karena kalau bisa mengucapkan hari ini, kenapa harus menunggu besok? Ah, saya mulai mellow … see you tomorrow….



Catatan:
Semua gambar dalam artikel ini diambil dari google.

Selasa, 21 Juni 2016

Kebaikan Tak Kasat Mata - Day 17 Fasting

Jangan parno dulu baca judulnya. Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan hantu-hantu. Kasat mata artinya terlihat dengan mata telanjang. Tak kasat mata, artinya tak terlihat. Cmiiw.

Saya tidur cepat dan terbangun pukul 00.15 karena kaget mendengar teriakan dan ketukan pintu ruang tamu kos. Kamar saya kan bersebelahan pas dengan ruang tamu. Uh, saya agak malas buka pintu. Tak lama saya dengar bapak kos berdialog dengan si pengetuk pintu. Lalu saya sempat sak sliut tidur lagi.

Bangun-bangun saya langsung gegap gempita ke kamar mandi lalu ambil air wudhu untuk tarawih munfarid. Pak kos lagi nyapu-nyapu. Itu memang kebiasaannya yang rada ganjil, nyapu di tengah malam buta. Lalu beliau bercerita tentang si pengetuk pintu yang rupanya orang mau beli bensin. Fyi, Pak kos jualan bensin eceran di depan rumahnya.

"Wah, kok, malam-malam masih beli bensin, to, Pak?" tanya saya.

"Iya. Nggak papa, Mbak. Malah pernah ada yang jam dua pagi datang minta beli bensin. Kasihan dia mau jualan di pasar Turi, mogok di jalan trus jauh-jauh ke sini. Saya malah bilang sama kalau perlu bensin jam berapapun ketuk saja. Itupun dia belum punya uang, Mbak. Jadi saya biarkan. Terus siangnya dia pulang dari pasar, datang menyerahkan uang bensin. Malah saya dibelikan oleh-oleh segala."

"Wah, orang baik, pasti dapat balasan hal baik juga, ya, Pak."

Pak kos meneruskan cerita bahwa ibu kos juga pernah membiarkan seorang anak sekolah beli bensin tanpa membayar dulu. Malah anak sekolahan itu yang nggak enak hati, terus menyerahkan ponsel sebagai jaminan. Sore dia datang bawa uang dan ambil ponselnya.

Sepertinya kebaikan yang dilakukan pak dan bu kos itu biasa-biasa saja. Tapi menurut saya, itu luar biasa. Ini tentang keikhlasan dan kepercayaan. Membiarkan bensin seliter dua liter pergi tanpa dibayar, siapa yang berani menjamin bahwa si pembeli akan datang lagi? Tapi Pak kos dan bu kos percaya, dengan niat membantu, dengan niat baik menolong orang lain, Tuhan akan melindungi mereka juga.

Gambar dari Google

Senin, 20 Juni 2016

Menyikapi Berita Hoax - Day 16 Fasting

Pagi ini saya membuka salah satu grup whatsapp dan terperanjat membaca berita yang dituliskan teman. Pengumuman bahwa AA Gym meninggal dunia. Berita itu segera disusuli oleh sanggahan kawan yang lain bahwa berita itu hoax. Saya langsung membuka situs google untuk mengecek. Kata kunci yang saya ketikkan pada kolom pencarian adalah: AA Gym Meninggal Dunia. Syukurlah, berita yang muncul mengabarkan bahwa meninggalnya AA itu tidak benar. Beliau masih hidup, hanya sedang dalam kondisi tidak enak badan. Alhamdulillah, semoga kabar yang tersebar adalah petanda beliau akan selalu sehat dan berumur panjang, aamiin.

Pada masa sekarang ini di mana berita-berita hoax dan nyata berseliweran di dunia maya maupun dunia nyata, kita harus pandai-pandai memilih dan memilah mana berita yang kita percayai. Apalagi kalau hobi share-share ... wah, jangan sampai kabar yang kita sebarkan itu tidak benar. Apalagi bila menyangkut nama baik seseorang. Bisa-bisa mengundang fitnah. Sementara kita tahu bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Betul, tidak?

Di sinilah pentingnya tabayyun, atau krosscheck lagi tentang kebenaran berita yang kita dapatkan. Jadi ada beberapa tips yang hendak saya bagikan di sini untuk menyikapi berita hoax maupun tidak:

1. Baca baik-baik berita yang Anda dapatkan. Pastikan Anda memahami isi berita.
Hal ini penting, karena biasanya orang cenderung menganggap bahwa Anda serba tahu dan akan menanyai Anda tentang sesuatu yang belum ia pahami dari berita tersebut. Jadi jangan share terus lepas tangan, ya. Apa yang Anda share itu adalah tanggungjawab Anda

2. Renungkan kebenarannya. Kalau meragukan, segera kroscek. Mungkin dengan bertanya pada orang yang Anda anggap lebih tahu, atau bertanya pada Mbah Google, seperti yang saya lakukan di awal artikel ini.

3. Kalau sudah yakin seratus persen akan kebenarannya, renungkan lagi apakah artikel yang hendak Anda share itu akan lebih bermanfaat bila orang banyak membacanya? Atau cukup di keep sampai di Anda saja karena walaupun benar mungkin bisa memicu kerusuhan?

4. Share jika memang berita itu bermanfaat untuk orang banyak.

Apabila Anda sudah terlanjur membagikan artikel yang ternyata hoax, ada etikanya juga. Seperti saya sudah bilang tadi bahwa Anda nggak boleh lepas tanggungjawab. Maka Anda harus melakukan permintaan maaf dan pencabutan artikel yang sudah terlanjur tersebar tadi. Hmm, Anda tak tahu pasti sejauh mana air sudah mengalir, bukan? Masihkah sampai di muara, atau sudah bercampur aneka benda di lautan? Jadi selain minta maaf, Anda juga harus memohon ampun pada Tuhan dan berdoa agar berita yang entah sudah sampai ke mana tadi, tidak lebih jauh memberikan kemudharatan untuk orang lain.


Rabu, 15 Juni 2016

Hikmah dari Para Pencari Tuhan – Day 11 Fasting


Apakah Anda tahu serial Para Pencari Tuhan? Serial ini sudah sejak … entah berapa tahun yang lalu, selalu disetel di bulan ramadhan di SCTV tiap pagi pukul 03.00 dan diulang bakda maghrib. Atau disetel maghrib diulang dini hari, ya? Entahlah, pokoknya dalam 24 jam ditayangkan dua kali.



Saya selalu menonton serial ini dengan khidmat, karena relatif lebih mengena di hati ketimbang tayangan lainnya. Permasalahan yang diangkat aktual dan natural. Nggak ada adegan yang lebay atau ibu mertua yang sinis meringis mengintimidasi menantunya ala sinetron stereotype Indonesia. Pesan moralnya jelas ada namun tak menggurui. Dan yang lebih penting, dikemas dengan humor-humor yang santun.

Awalnya dulu serial ini disutradarai oleh Deddy Mizwar, namun kemudian (mungkin) berganti setelah beliau sibuk bekerja sebagai salah satu pimpinan daerah Jawa Barat. Walau demikian taste-nya tak berubah.

Nah, selama menjalankan puasa di kosan tahun ini, saya nggak pernah setel televise saat makan sahur. Kebetulan baru dini hari tadi, bu kos nyetel televisi dan ndilalahnya kok pas SCTV pas serial Para Pencari Tuhan itu.

Ada satu adegan yang membuat saya sungguh-sungguh merasa bersyukur. Aya (Zaskia Adya Mecca), divonis dokter tidak bisa melahirkan lagi, sementara di kehamilan terdahulu ia keguguran (keguguran atau anaknya meninggal, ya? Saya lupa). Aya galau. Di tengah kegalauannya ia meminta pada sahabatnya untuk bersedia menikah dengan Azzam (Agus Kuncoro), suaminya. Aya berpendapat bahwa Azzam pasti ingin punya anak. Tapi di satu sisi, Aya menyadari bahwa cinta suaminya kepadanya begitu besar. Azzam tak akan mau menikah lagi, demikian ditandaskan oleh Azzam. Tetaplah berjalan di sisiku.

Pemeran Azzam dan Aya

Hingga suatu malam, dengan hati hancur, Aya mengatakan pada Azzam:
“Aku tahu kau tak akan menikah lagi selama masih ada aku. Menikahlah lagi, Zam. Dan ceraikan aku.”
Zaskia memerankannya dengan begitu apik. Kesakitannya demikian terlukis di wajah yang bersimbah air mata.

Saya termenung dan tak terasa mengalir pula cairan bening di pipi. Ya, Allah. Mungkin bukan hanya Aya. Tapi banyak wanita di luar sana, yang masih berharap anugerah kehamilan dan selalu dalam perasaan cemas, gelisah, takut kehilangan suami. Atau mereka yang sudah divonis mandul dan sedang memupuk kesabaran untuk mengizinkan sang suami menikah lagi. Duhai sahabat, saudara sesama makhluk Tuhan, doaku untuk kalian semua.

Di situlah saya merenungi hidup saya sendiri, dengan satu anak di surga dan tiga anak yang lucu-lucu di dunia. Betapa besar anugerah Allah pada saya. Masih ditambah dengan suami yang baik dan pengertian. Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang Engkau dustakan?

Alhamdulillah ya Allah…. Ampuni hamba jika masih banyak mengeluh dan lalai bersyukur kepada-Mu.

Catatan:
Gambar diunduh dari google
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES