Minggu, 22 November 2015

Percikan Pertamaku di Majalah Gadis

Beberapa waktu lalu, naskah cerpenku dimuat di rubrik Percikan majalah Gadis. Rubrik percikan adalah rubrik yang berisi naskah cerpen singkat sekitar 500 kata. Genrenya tentu remaja dan biasanya kisah berakhir secara twist ending, atau endingnya agak mengejutkan gitu. Sempat mencoba beberapa kali njajal gawang percikan, ini naskah ke lima yang golll. Kukirim 8 Oktober 2015, dimuat pertengahan bulan Oktober 2015. Ini naskah asli dari "Bukan Habibie". Selamat membaca, ya.
 



Bukan Habibi
Oleh: Kalya Innovie

            Mataku masih terpejam ketika secara refleks kuraih ponsel yang sudah beberapa menit mengalunkan “Knock Me Out” dari Afgan. Uuh … siapa sih yang rese banget malam-malam buta menelepon? Tak lama setelah kugeser penanda hijau ke merah di ponselku, suara cempreng menampar telingaku dari ujung telepon.
            “Winaaa … lama amat ngangkatnya,” suara Mia, teman sebangkuku di kelas.
            “Maaf, aku sudah tidur,” sahutku mengucap maaf dengan maksud menyindir Mia.
            “Oh, nggak papa. Sekarang sudah melek? Aku ada berita penting.”
            “Berita apa?” tanyaku malas.
            “Aku sekarang tahu kenapa Vino selalu bilang aku jelek.”
            “Kenapa, Mi?”
            “Aku tahu karena aku baru nemenin tanteku nonton film lama. Film Ainun-Habibi.”
            “Tolong dipersingkat saja deh, Mi. Kalau bertele-tele, aku nggak mudeng.”
            “Ih, Wina. Masak kamu nggak tahu? Di film itu, pak Habibi yang masih remaja selalu meledek bu Ainun jelek, item. Padahal itu sebenarnya wujud kecanggungan pak Habibi saja. Padahal pak Habibi tu naksir bu Ainun.”
            Mataku benar-benar melek sekarang.
            “Jadi maksud kamu?”
            “Maksudku, Vino pasti naksir aku. Cuma karena dia canggung, gugup, jadi dia selalu meledek aku jelek. Kamu tahu nggak? Aku jadi lega banget habis nonton film ini. Sekarang aku mau tidur dulu. Daa …!”
***
            Aku masih terkantuk-kantuk mendengarkan sekali lagi teori cinta a la Habibi dari mulut Mia. Tadi malam aku nggak bisa tidur lagi, lalu aku rampungkan saja buku “Bumi” karya Tere Liye yang siangnya baru aku pinjam dari perpustakaan. Akibatnya sekarang aku ngantuk.
            Mia masih nyerocos ketika Vino masuk ke kelas kami. Aku tau ia mencari Clarissa. Tapi Claris sedang tidak masuk.
            “Hai, ganteng…,” sapa Mia senyum-senyum.
            “Hai, jelek,” sahut Vino cuek, seperti biasa.
            Alih-alih cemberut dan ngedumel kayak biasanya, kali ini Mia terbahak mendengar jawaban Vino, lalu dengan centil menepuk bahu Vino.
            “Ih, Vino gitu deh, sukanya. Jangan nggak jujur sama perasaanmu sendiri…,” rajuk Mia, lalu ngikik kayak miss kunti.
            Vino melongo dan terlihat agak ngeri dengan reaksi Mia yang lain dari biasa.
            “Claris mana, Win?” tanyanya padaku, tak mau lama-lama menatap Mia yang masih cari-cari perhatian. Aku segera menjelaskan tentang Clarissa yang tidak masuk. Vino buru-buru meninggalkan kelas kami setelah mendengarkan penjelasanku. Sepeninggal Vino, Mia kembali membeberkan teori cinta a la Habibi. Tapi aku punya pendapat sendiri. Walau tak menguasai teori cinta manapun, dari tatapan mata Vino saja, aku bisa paham kalau dia naksir Clarissa, bukan Mia. Tapi aku nggak mau merusak euforia Mia, jadi aku diam saja.
***
            “Hai, cantik … sudah sembuh bener, ya?” sapa Vino pada Clarissa. Hmm, pradugaku 99% sudah mendekati kebenaran. Setiap jam istirahat Vino selalu masuk kelasku untuk nyari Clarissa. Visi dan misinya terdeteksi dengan jelas. Cuma, selalu ada satu orang yang buta.
            “Hai, Vino ganteng…,” walau nggak disapa, Mia tetep aja nyamber.
            “Hai, jelek,” balas Vino pendek dengan muka lempeng.
            Clarissa tertawa.
            “Kalian itu nggak ada capeknya bertengkar. Yuk, kita ke kantin. Vino janji mau nraktir kita bertiga, lho,” ajak Clarissa tersenyum manis.
            “Dalam rangka apa, Cla?” tanyaku.
            “Emh … kemarin kami jadian,” jawab Clarissa dengan pipi memerah.
            Clarissa dan Vino duluan ke kantin. Aku janji akan menyusul bersama Mia. Aku harus menghibur Mia yang syok mendengar berita dari Clarissa.
            “Mi … sabar, ya, Mi. Maaf, nggak mengingatkan kamu tentang teori Habibi. Satu yang kamu perlu sadari, Vino itu bukan Habibi. Dan untuk teori cinta, tiap orang punya formula yang berbeda.”
            “Jadi … ternyata benar ya, Wina?” tanya Mia mengandung isak.
            “Apanya yang benar?”
            “Benar aku ini jelek?” tangis Mia pecah.
            Aku memeluknya. Sepertinya perlu waktu lebih lama untuk menyusul Vino dan Clarissa ke kantin.***




15 komentar:

  1. Baru tahu ada teori cinta ala Habibi ttg ungkapan jelek artinya naksir he he he...Bukan Sukarno juga sepertinya mbak Ind.. Apik ceritanya, tutur sederhana tapi mengena. Kapan ada cerita bukan Sulis? ...sukses ya jeng!

    BalasHapus
  2. Makasih sudah singgah ya, Bunsul. Ini terinspirasi salah satu adegan dalam film Habibie-Ainun, Bun :)

    BalasHapus
  3. Lucu ... pengen bikin tulisan kayak gini deh mbak. Remaja unyu2, hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi...ayo mbak dicoba, biar kita ketularan unyu

      Hapus
  4. bagus, pingin belajar bikin twist ending nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa dilakukan dengan memikirkan twistnya dulu. misalnya sudah bikin cerpen, lalu kita berpikir seperti pembaca, ah ini pasti endingnya seperti ini. nah, lalu tinggal bikin ending yang jauh berbeda, jadilah twist.

      Hapus
  5. Mbak, boleh numpang tanya? Kalau mau ngirim percikan ke majalan Gadis syaratnya apa ya? Sama emailnya apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirim langsung saja naskah pendek sekitar 500 kata, TNR 12 spasi 2, ke gadis.redaksi@feminagroup.com
      Semoga sukses

      Hapus
  6. suka sama ceritanya, Mbak...
    sederhana tapi seru..
    :)

    BalasHapus

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES